Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan pergantian direksi itu dilakukan supaya memperbaiki kinerja perusahaan telekomunikasi plat merah itu lebih baik lagi
BERITA PASAR MODAL
Produksi Batubara Adaro 47,67 juta ton di 2011 Posted : 03 Feb 2012| By : | Komentar : 0
(BusinessReview Online)- PT Adaro Energy (ADRO) mencatatkan kenaikan produksi batubara pada 2011 sebesar 13% menjadi 47,67 juta ton dibanding tahun sebelumnya sebesar 42,20 juta ton.
Kinerja yang dicapai pada kuartal keempat 2011 sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan sedangkan produksi batu bara tahunan Adaro khususnya tahun 2011 meningkat sebesar 13% menjadi 47,67 juta ton.
Demikian diungkapkan Sekertaris Perusahaan, Devindra Ratzarwin, dalam siaran pers di Jakarta, Kamis. (2/3) Dikatakan dengan kondisi curah hujan yang normal pada kuartal keempat 2011, Adaro tetap dapat beroperasi dengan tingkat produksi yang tinggi dimana produksi batubara meningkat 20% year on year (YoY) menjadi 12,39 juta ton dan pemindahan lapisan penutup meningkat 23% YoY menjadi 74,23 Mbcm.
Kombinasi antara kondisi cuaca yang sesuai harapan, tambahan alat berat baru yang lebih besar dan kinerja yang baik dari para kontraktor memungkinkan Adaro untuk mencapai hasil akhir yang tinggi sesuai dengan target volume produksi sebesar 46-48 juta ton. Terdapat curah hujan dan jumlah hari hujan yang lebih rendah pada kuartal keempat 2011 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Volume curah hujan menurun 22% menjadi 756 mm dan jumlah hari hujan menurun lima persen menjadi 52 hari. Curah hujan meningkat dibanding dengan Kuartal ketiga bersamaan dengan datangnya musim hujan," kata dia.
Sementara itu,total volume penjualan juga meningkat sebesar 16% menjadi 50,78 juta ton.Batubara jenis E 4000 (Wara) semakin diterima dengan baik oleh para pelanggan Adaro yang terus bertambah jumlahnya. Pada kuartal keempat 2011, dipaparkan, produksi batubara E 4000 (Wara) melonjak 36% menjadi 1,42 juta ton, sementara penjualan meningkat 21% menjadi 1,41 juta ton. "Hal ini menyebabkan, produksi E 4000 (Wara) naik 115% menjadi 5,37 juta ton, sementara penjualan meningkat 167% menjadi 5,48 juta ton, sehingga melampaui panduan tahun 2011 sebesar 4-5 juta ton," kata dia.
Desember 2011, sambung Devindra, Adaro untuk pertama kalinya mengirim E 4000 (Wara) ke Hong Kong, hal ini menambah basis pelanggan Adaro untuk batubara E 4000 yang terus tumbuh baik di India, China, Korea Selatan, Thailand dan Indonesia.
Bagi Dividen Sebelumnya Presiden Direktur Adaro, Garibaldi "Boy" Thohir, mengatakan akan membagi dividen untuk para pemegang saham di kisaran 20 persen dari total laba bersih. Untuk tahun buku 2011, perusahaan pertambangan batu bara itu siap membagikan antara USD 100 juta atau sekitar Rp 902 miliar (kurs 9.022) sampai USD 150 juta atau setara Rp 1,35 triliun.
"Kita mencoba setiap tahun USD 100 juta sampai USD 150 juta. Kita pengin pemegang saham happy dan juga founder," ujarnya
Dividen rencananya disebar sekitar bulan April atau setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Boy mengatakan bahwa laba bersih Adaro diyakini menembus sekitar USD 550 juta sampai USD 580 juta pada tahun lalu. Menurutnya, tahun 2011 merupakan salah satu momen best performance Adaro sepanjang kiprahnya. Laba terdorong oleh produksi batubara yang mencapai 47,7 juta ton dan penjualan mencapai 50 juta ton.
Pada tahun 2012 ini perseroan meyakini akan melanjutkan kenaikan kinerja karena produksi batu bara akan mencapai 50 juta sampai 53 juta ton. Ebitda diprediksi bisa tembus USD 1,3 miliar sampai USD 1,5 miliar dan laba bersih ditargetkan tetap mengalami kenaikan.
"Bottom line naik sedikit, sekitar 5-7 persen jadi bukan malah turun. Kita tetap harus antisipasi krisis Eropa dan Amerika Serikat juga," terangnya.
Boy menganggap target yang sudah diungkap untuk kinerja 2012 ini merupakan target konservatif. Menurutnya, hampir semua pihak saat ini memang melakukan hal yang sama akibat kekhawatiran meluasnya dampak krisis di kawasan Negara maju itu. "Lebih baik konsdervatif. Karena ini menyangkut kredibilitas kita, menjanjikan apa, realisasinya tercapai," tegasnya.
Adaro tahun ini mengalokasikan anggaran belanja modal (capex) sebesar USD 600 juta sampai USD 700 juta terutama untuk pengembangan infrastruktur dan pembelian alat berat. Sumbernya kombinasi dari dana kas internal dan pinjaman. Sebagian besar dana, kata Boy, dialokasikan untuk PT Adaro Indonesia dan selebihnya menjadi belanja modal untuk pengembangan proyek Indomeltcoal dan proyek Independent Power Produce (IPP) di Jawa Tengah. Boy mengatakan, kinerja Adaro tahun ini juga akan tergantung kondisi sosial politik.
"Market demandsaat ini terhadap energy coal relatif stabil. Kami harus waspadai pengaruh krisis Eropa dan AS walaupun pasar Adaro utamanya di Asia. Kami memang sudah menstrategikan bahwa tidak ingin terlalu bergantung ke satu market," terangnya.
Sejauh ini, dia mengaku, permintaan dari pasar Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Jepang, dan Korea masih stabil. "Sekarang yang kita pantau terus itu China dan India, karena selain untuk utility, juga untuk?factory. Sekarang ekspor ke China tidak lebih dari 10 persen," paparnya.(Sigit)
Jumlah Komentar masuk :0 Rubrik LainnyaLihat Komentar Tambah Komentar
Anda belum mendaftar? klik disini untuk daftar
dan mengisi form registrasi
www.businessreview.co.id the indonesia
lighthouse of business & state enterprises
PT. Kreasi Multi Media
Jl. Ciputat Raya No.
100 C. Kebayoran Lama 12240
Telp. (021) 729.1766. Fax. (021) 723.8541