BERITA PASAR MODAL
Laba Bersih Adaro Turun 49% Jadi Rp1,153 T Posted : 31 Aug 2010| By : | Komentar : 0
(Businessreview)- Laba bersih Adaro Energy (ADRO) pada semeser I menurun 49% menjadi Rp1,153 triliun. Atau turun 38% menjadi US$125 juta. Hal ini karena peningkatan beban bunga yang terkait obligasi sebesar US$800 juta pada Oktober 2009.
Hal itu dikatakan Presdir ADRO, Garibaldi Thahir daalm keterbukaan di BEI. "Penurunan pada semester I tahun 2010 sudah diperkirakan. Walaupun dproduksi dan penjualan meningkat dibandingkan semester I 2009," katanya.
Hal ini karena peningkatan beban bunga yang terkait obligasi sebesar US$800 juta pada Oktober 2009. Akibatnya, jumlah beban bunga meningkat 93% menjadi US%64 juta atau 60% menjadi Rp586 miliar. Belum lagi ditambah dengan faktor kenaikan tarif pajak efektif dan kerugiakn selisih kurs sebesar Rp121 miliar.
Namun beban operasi mengalami penurunan sebesar 27% hingga menjadi Rp377 miliar atau menurun 12% menjadi US$41 juta. Hal ini terutama disebabkan beban penjualan dan pemasaran yang lebih rendah. Walaupun beban umum dan administrasi meningkat 31% atau US$5,4 juta.
Penurunan ini akibat penurunan sebesar 37% pada komisi penjualan yang terkait dengan restrukturisasi agen pihak ketiga terhadap coaltrade. Jadi laba usaha menurun 28% menjari Rp3,6 triliun atau 13% menajdi US%388 juta. Adaro mencatatkan pendapatan usaha bersih konsolidasi untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2010 sebesar US$1,3 miliar.
Perolehan pendapatan itu meningkat 12 persen dibanding periode sama 2009. Kenaikan pendapatan dipicu pertumbuhan produksi yang kuat, meski curah hujan cukup tinggi yang melebihi rata-rata lima tahun terakhir.
Sementara untuk volume produksi dan penjualan Adaro pada semester I-2010 masing-masing meningkat 20 persen dan 22 persen menjadi 21,6 juta ton serta 21,8 juta ton.
Berdasarkan Kurs Rupiah Laba Anjlok Namun, karena Adaro harus melaporkan kinerja keuangan dalam mata uang rupiah, fluktuasi rupiah dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang tidak sebenarnya. Dengan apresiasi rupiah sebesar 17 persen, pendapatan usaha bersih Adaro Energy untuk semester I-2010 menurun tujuh persen menjadi Rp12 triliun.
Sementara itu, beban pokok pendapatan Adaro Energy meningkat 30 persen hingga US$875 juta atau naik delapan persen menjadi Rp8 triliun. Kenaikan ini sebagian besar karena volume produksi dan rencana nisbah kupas yang lebih tinggi. "Tetapi, biaya kas per ton hanya meningkat enam persen," ujarnya.
Direktur Utama Adaro Energy, Garibaldi Thohir, mengatakan penurunan pendapatan (dalam rupiah) pada semester I-2010 telah diperkirakan sebelumnya. Walaupun produksi dan penjualan meningkat dibandingkan periode sama 2009, tingkat curah hujan yang tinggi berdampak terhadap pendapatan usaha dan laba bersih.
"Kami berharap harga jual rata-rata untuk semester kedua tahun ini meningkat dan bila cuacanya memungkinkan, kami akan memenuhi ekspektasi pasar untuk 2010," tuturnya.
Faktanya, Giribaldi mengatakan volume produksi dan penjualan Adaro meningkat masing-masing 20% dan 22% menjadi 21,6 juta ton dan 21.8 juta ton. "Produksi meningkat seiring pemulihan ekonomi, berbeda dengan semester 1/2009 ketika sebagian permintaan melemah."
Analis PT Andalan Artha Advisindo Securities Herman Koes-wanto mengatakan penurunan laba bersih Adaro akan terjadi hingga akhir tahun. Dalam riset terbarunya, dia mematok laba bersih 2010 senilai Rp3.72 triliun atau turun 14,87% dari tahun lalu Rp4.37 triliun.
"Kami memperkirakan penurunan laba bersih 2010 semata terkait dengan kenaikan biayakas dari pertumbuhan biaya pertambangan [kenaikan rasio peng-upasan], harga jual yang relatif flat dan kenaikan kurs rupiah." katanya
Setelah dilakukan integrasi penuh terhadap rantai pasokan batu bara pada Mei 2009, Adaro terus memperbaiki efisiensi biaya, seperti yang tercermin pada skala peningkatan biaya angkutan dan pengapalan yang lebih rendah, yaitu hanya sembilan persen.
Selain itu, dengan restrukturisasi beberapa kontrak agen penjualan, Adaro dapat menurunkan beban operasi sebesar 12 persen. Namun, peningkatan beban bunga yang lebih tinggi, penguatan rupiah, dan peningkatan tarif pajak efektif berkontribusi terhadap penurunan laba bersih.
Laba Adaro turun 38 persen menjadi US$125 juta atau tergerus 49 persen menjadi Rp1,15 triliun dan laba per saham menurun menjadi Rp36 dari Rp70,3 per saham.(sigit)
Jumlah Komentar masuk :0 Rubrik LainnyaLihat Komentar Tambah Komentar
Anda belum mendaftar? klik disini untuk daftar
dan mengisi form registrasi
www.businessreview.co.id the indonesia
lighthouse of business & state enterprises
PT. Kreasi Multi Media
Jl. Ciputat Raya No.
100 C. Kebayoran Lama 12240
Telp. (021) 729.1766. Fax. (021) 723.8541