BISNIS & INVESTASI
ICT Portofolio Industri Strategis Masa Depan Posted : 29 Aug 2010| By : | Komentar : 0
(Businessreview)- Sadar atau tidak sadar, kehidupan ini telah menjadi semakin praktis berkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Bahkan TIK adalah jantung yang mensuplai energi bagi jalannya industri seperti perbankan, telekomunikasi, dan manufaktur. Melihat fenomena tersebut, tidak mengherankan jika banyak negara menjadikan TIK sebagai industri unggulan dalam rencana pembangunan mereka.
Negara-negara yang bangkit di awal abad 21 seperti India dan China memiliki portfolio industri TIK yang impresif. Negara-negara tersebut sadar, bahwa TIK dapat melesatkan pertumbuhan ekonomi mereka. TIK adalah industri masa depan, sehingga penguasaan TIK merupakan langkah strategis untuk menjadi negara yang berpengaruh di masa depan.
Negara Korea Selatan adalah negara termaju di dunia dalam hal infrastruktur teknologi. Sejak tahun 2000, seluruh masyarakat Korea telah menikmati jaringan internet 100 Mbit/detik, siaran televisi interaktif high-definition, teknologi Awalnya biasa saja.
Ekonomi dibangun dengan membangun industri-industri standar negara berkembang, tekstil, sepatu, yang mudah dan ringan. Tapi pemerintah sudah sekaligus mempersiapkan segalanya, infrastruktur, sumberdaya, dan pengetahuan untuk level industri selanjutnya. Industri berat dan strategis, baja, otomotif, perkapalan. Bukan untuk dimajukan, tapi untuk mengusai dunia.
Sejak awal, strategi besar Korea adalah export oriented. Mereka mempersiapkan diri dan berjuang untuk merebut pasar dunia! Ini akibat dari keadaan yang sama seperti Jepang, sumberdaya alam yang sangat terbatas dan pasar dalam negeri yang kecil.
Pemerintah memberikan dukungan yang kuat untuk dunia usaha. Infrastruktur, modal yang murah, pajak rendah untuk industri unggulan, dan, sumberdaya manusia berkualitas tinggi. Birokrasi dibuat super efisieni. Para birokrat dididik dengan proses belajar dan disiplin kelas dunia. Hanya yang terbaik yang ada dalam birokrasi. Tidak ada waktu untuk birokrasi korup.
Para pemimpin Korea Selatan juga punya visi yang sangat maju dalam penyerapan dan pengembangan teknologi. Tahun 1959, pemerintah Korea sudah mendirikan Korean Atomic Energy Commision. Pertengahan tahun 1960, Kementerian Sains dan Teknologi dibentuk. Lalu Korea Institute of Science and Technology yang dibentuk untuk riset industrial.
Proses pembelajaran sains dan teknologi dilakukan secara besar-besaran, segala macam teknologi terbaru dari Barat diserap habis-habisan. Riset dan penelitian digalakkan danl diberi dana yang sangat besar oleh pemerintah. Industri-industri dengan potensi pasar masa depan yang besar dianalisis baik oleh pemerintahnya maupun swasta.
Industri-industri utama Korea Selatan sekarang adalah otomotif, semikonduktor, elektronik, pembuatan kapal, dan baja. Korea juga dengan intens mengembangkan industri-industri strategis masa depan, seperti Nanoteknologi, Bioteknologi, Teknologi Informasi, Robotika, dan teknologi ruang angkasa.
Bagaimana pengembangan TIK di dengan Indonesia. Sebuah industri layak dijadikan industri strategis karena komoditinya memiliki 3 sifat, yakni export oriented, import-substitutable, dan capital raising. Artinya, komoditi tersebut harus bersifat mudah diekspor, dapat menggantikan barang import yang lebih mahal, serta dapat menaikkan nilai dari pengguna komoditi tersebut.
Tantangan saat ini adalah bagaimana caranya agar industri TIK di Indonesia memiliki ketiga sifat tersebut. Tiga buah langkah dapat dilakukan, yakni akuisisi teknologi maju, meningkatkan kecintaan terhadap produk lokal, serta technology sharing dengan bangsa lain.
Langkah pertama adalah akuisisi teknologi maju. Yang dimaksud dengan teknologi maju adalah teknologi yang dimiliki oleh pihak yang sangat terbatas, entah karena memang penguasaannya yang sulit dan membutuhkan SDM tingkat tinggi atau terhambat oleh masalah paten dan lisensi. Apabila industri TIK Indonesia dapat memproduksi teknologi maju, negara lain harus mengekspornya dari negeri kita.
Langkah kedua adalah meningkatkan kecintaan terhadap produk dalam negeri. Ini penting, karena sasaran langkah ini memang militer Indonesia. Sayang, konsumen TIK di Indonesia sudah terlanjur mencintai produk asing. Maka sudah saatnya kecintaan terhadap produk TIK dalam negeri dipupuk. Kuncinya adalah kepercayaan dan kerjasama dari pihak produsen dan konsumen.
Produsen harus membuktikan bahwa dirinya sebagai bangsa Indonesia mampu membuat produk TIK yang berkualitas dan teruji, dukungan yang baik, serta mudah dipakai. Sementara itu, konsumen harus memberikan kesempatan kepada produsen lokal, meski harganya lebih mahal daripada produk murah buatan Cina itu.
Langkah ketiga, kita harus giat dalam melakukan technology sharing. Patut disadari, bahwa Indonesia memiilki jumlah doktor per kepala keluarga yang sangat rendah. Artinya, jumlah para ilmuwan dan peneliti Indonesia tidak sebanding melawan jumlah bangsa lain. Padahal, lebih banyak kepala sebanding dengan jumlah inovasi yang dapat dihasilkan. Oleh karenanya, kerjasama strategis dengan bangsa lain dalam bidang TIK patut dijalin, sehingga perkembangan industrinya dapat terakselerasi.
Terakhir, pemimpin bangsa ini harus mewaspadai pragmatisme. Penguasaan TIK sampai taraf teknologi maju bukanlah persoalan yang dapat diselesaikan hanya dalam satu dekade, akan tetapi mungkin memakan sampai 20-30 tahun. Jika dilihat secara pragmatis, katakanlah satu sampai lima tahun, mungkin saja TIK akan menjadi industri yang tidak membawa laba, baik laba ekonomi maupun teknologi.
Padahal walaupun terlihat rugi, keunggulan teknologi yang akan diraih di masa depan bersifat abadi, dan akan menutupi kerugian ekonomi. Keunggulan teknologi 20 tahun pasti akan menutupi kerugian ekonomi selama lima tahun. Oleh karenanya, langkah ini harus dikomando oleh pemimpin yang bervisi jauh ke depan. Karena di tangannya, TIK sebagai industri strategis akan membawa manfaat bagi bangsa ini.
Kemampuan Industri Telematika Nasional Saat ini, Indonesia memiliki jumlah tenaga kerja yang cukup besar, terampil, dan berpengalaman dalam industri Telematika. Beberapa industri kelas dunia saat ini juga telah berinvestasi di Indonesia, misalnya Microsoft, Oracle, IBM, dan lain-lain.
Selain itu, industri pendukung/komponen untuk industri Telematika juga telah ada di Indonesia, seperti industri IC, CRT komputer, LCD telepon seluler/kamera digital, lensa digital, PCB, dan komponen.
Indonesia juga telah dapat memproduksi plastik serta komponen casting/forging. Tersedianya infrastruktur Nusantara 21, masih bertahannya industri manufaktur terbesar dan tertua, dan pengalaman sebagai Industri manufaktur untuk produksi Sentral Telepon Digital Indonesia (STDI) dengan lisensi Siemens juga mendukung industri telematika nasional.
Namun, lingkungan usaha telematika nasional belum kondusif sepenuhnya terutama karena belum adanya kepastian hukum, konsistensi kebijakan, dan masalah ketenagakerjaan. Dukungan litbang dan transfer teknologi juga masih lemah karena terbatasnya pembiayaan.
Standar sistem keamanan bagi produk telematika ternyata juga belum tersedia. Selain itu, keterbatasan pasar ekspor; keterbatasan SDM yang profesional sebagai wirausahawan di bidang pengembang industri telematika; tingginya tingkat pembajakan produk perangkat lunak; tingkat ketergantungan barang modal, komponen dan bahan baku impor yang hingga saat ini masih cukup tinggi sehingga mudah terpengaruh oleh perubahan global; serta potensi usaha berbasis teknologi informasi, misalnya industri Animasi yang belum dikembangkan secara optimal; menjadi penghambat pengembangan industri telematika nasional.
Peluang Indonesia dalam mengembangkan industri telematika nasional terletak pada penyediaan konten dalam pengembangan jasa telekomunikasi baru oleh industri perangkat lunak yang cukup baik; peluang pasar dalam negeri untuk produk-produk telematika secara keseluruhan yang cukup besar setelah AS, Cina, dan India
Iklim investasi dan insentif yang lebih menarik di negara pesaing ternyata dapat menarik banyak pekerja profesional telematika untuk bekerja di perusahaan di luar negeri. Selain itu, cepatnya perkembangan dan perubahan teknologi di bidang IT serta kolaborasi yang telah dilakukan industri telematika beberapa negara ASEAN dengan industri terkemuka di dunia menjadi ancaman bagi pengembangan industri telematika nasional. (berbagai sumber)
Jumlah Komentar masuk :0 Rubrik LainnyaLihat Komentar Tambah Komentar
Anda belum mendaftar? klik disini untuk daftar
dan mengisi form registrasi
www.businessreview.co.id the indonesia
lighthouse of business & state enterprises
PT. Kreasi Multi Media
Jl. Ciputat Raya No.
100 C. Kebayoran Lama 12240
Telp. (021) 729.1766. Fax. (021) 723.8541