MUST READS :

  Regional :
   

Welcome to  Business Review online. The Indonesian Lighthouse of Business & State Enterprises.

EVENTS!

EVENT Sekarang:
Indonesia Human Capital Study
26 Mei 2011

EVENT Sebelumnya:
Executive Golf Tournament 2011
3 April 2011
 

Kinerja index Saham IHSG


.: SAHAM

IHSG berhasil menguat tipis sebesar 0,02 point di 3416,78
16 Feb 2011

Equity Daily Trading Information
12 Oct 2010


.: PREDIKSI PASAR

IHSG DIprediksikan Melemah tergerus harga minyak global
02 Mar 2011

IHSG Berpotensi Menguat
16 Feb 2011

 

Advertisment

Media Group
 

 

BISNIS & INVESTASI
FCTC Jadi Momok bagi Industri Rokok
Posted : 31 Aug 2010 | By : | Komentar : 0

(Businessreview)- Industri tembakau kini menghadapi beragam tantangan. Selain masalah ketidakpastian musim sehingga merusak tanaman dan masalah harga yang bisa dimainkan pabrikan,

kini muncul agenda anti tembakau berwujud Framework Convention on Tobacco Control (FCTC/Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau).

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Abdus Setiawan, mengatakan, FTCT tampaknya mulai mempengaruhi pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang bakal merugikan industri tembakau dalam negeri.

“Banyak peraturan yang ada sekarang ini merupakan copy paste dari negara lain yang dampaknya merugikan petani tembakau.

Kalau persoalan ini berlarut-larut berdampak pada kerugian petani tembakau, mengingat perkebunannya menyusut tapi jumlah buruhnya bertambah banyak," kata Abdus dalam diskusi bertema Tantangan Industri Tembakau, Apa Solusinya? yang digelar Aliansi Masyarakat Tembakau Nasional (AMTI) di Hotel Mercure Surabaya, Kamis (26/8).

Salah satu peraturan yang kini menjadi momok bagi pelaku industri tembakau adalah pembatasan terhadap industri rokok kretek. Karena itu, AMTI siap menggalang seluruh asosiasi yang terlibat dalam industri rokok untuk mempertahankan usaha rokok kretek di Indonesia.

Menurut Ketua Umum AMTI, Soedaryanto, industri rokok kretek sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat di Indonesia, bahkan ada sekitar enam juta tenaga kerja yang hidup dari industri itu. "Jangan sampai pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menekan bahkan mematikan industri rokok, tetapi di pihak lain mengharapkan kenaikan penerimaan negara yang relatif besar dari  cukai rokok," ujar Soedaryanto.

"Kami setuju Indonesia memberlakukan regulasi produk tembakau yang lebih ketat, tetapi tidak harus menandatangani FCTC," ujar Soedaryanto, yang mengaku telah menggalang Kadin Jatim, Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia (organisasi dengan 1.300 pabrik rokok keci di Jatim dan Jateng), Paguyuban Mitra Produksi Sigaret serta Asosiasi Petani Tembakau Indonesia untuk mendesak pemerintah agar tidak menandatangani FCTC.

Dikatakan Soedaryanto, pemerintah harus bisa mengeluarkan regulasi yang adil dan berimbang terhadap industri rokok. "Jadi, jangan industri rokok dibiarkan mati dulu baru berpikir mengembangkan industri penggantinya. Yang benar, kembangkan penggantinya dulu. Jika berhasil, baru melakukan penekanan terhadap industri rokok. Jangan hanya mencari gampangnya saja," paparnya. (Sigit)

Jumlah Komentar masuk : 0
Bookmark and Share
Rubrik Lainnya
Lihat Komentar
Tambah Komentar

Anda belum mendaftar?
klik disini untuk daftar
dan mengisi form registrasi


 

Kalender Event

.

Advertisement

 

 

Free PageRank Checker

Disclaimer >>>> Data dan/atau informasi yang tersedia hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun kegiatan bisnis lainnya. kami tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan di website www.businessreview.co.id ini


www.businessreview.co.id
the indonesia lighthouse of business & state enterprises

PT. Kreasi Multi Media

Jl. Ciputat Raya No. 100 C. Kebayoran Lama 12240
Telp. (021) 729.1766. Fax. (021) 723.8541