MUST READS :

  Regional :
   

Welcome to  Business Review online. The Indonesian Lighthouse of Business & State Enterprises.

EVENTS!

EVENT Sekarang:
Indonesia Human Capital Study
26 Mei 2011

EVENT Sebelumnya:
Executive Golf Tournament 2011
3 April 2011
 

Kinerja index Saham IHSG


.: SAHAM

IHSG berhasil menguat tipis sebesar 0,02 point di 3416,78
16 Feb 2011

Equity Daily Trading Information
12 Oct 2010


.: PREDIKSI PASAR

IHSG DIprediksikan Melemah tergerus harga minyak global
02 Mar 2011

IHSG Berpotensi Menguat
16 Feb 2011

 

Advertisment

Media Group
 

 

BISNIS & INVESTASI
Petani Mete Meraih Asa Dilahan Tandus
Posted : 09 Sep 2010 | By : Sigit | Komentar : 0

(BusinessReview)- Ishak Samuel Lema (61), petani dari Desa Ile Padung, Kabupaten Flores Timur, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, menatap  hamparan kebun tanaman jambu mete miliknya.

Usia tua tak menghalangi Samuel Lema merawat kebunnya dilahan yang kritis. Kakek dengan empat cucu ini, masih saja bekerja, walau matahari terus memancarkan teriknya yang kian menyengat.

Tubuhnya kurus, kulitnya legam terbakar panas sang surya, dia tetap semangat. Kedua tangannya memegang ember yang berisi air, sambil berjalan menyirami tanaman jambu mete. Meski didera kemiskinan pantangan bagi Samuel Lema mengeluh  meratapi nasibnya, apalagi sampai mengemis. Baginya berkebun jambu mete adalah sarana penyambung hidup untuk keluarga.

Dia berharap dengan jambu mete masih tersimpan asa masa depan bagi anak-anak  dan cucu-cucunya. "Moga Tuhan memberkati" guman Samuel Lema dalam hati.

Sepertinya Bumi Flores sedang dimanjakan Sang Pencipta, dilahan tandus tumbuh tanaman yang memiliki nilai jual tinggi. Namun sayang belum tergarap maksimal aneka manfaat jambu mete yang semestinya dapat menjadi katup pembuka menuju peningkatan kesejahteraan penduduk di wilayah yang tertinggal dari segi ekonomi penduduk.

Tirani Tengkulak

Disela berkebun Samuel Lema masih menyempatkan memecahkan batok kepala jambu mete. tenaganya makin terkuras, sejenak dia istirahat dibawah rindang pepohonan, diusapnya wajah yang berkeringat, sambil sesekali meneguk segelas air putih untuk melepas dahaga. Tanpa disadarinya, kaos bergambar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang melekat dibadannya bermandikan keringat. Karena kekurangan tenaga kerja, dia bekerja dibantu kedua cucunya yang beranjak remaja.

Perjuangan Samuel Lema tidak sampai disitu, dia masih dihadapkan keadaan yang tak berpihak padanya. Lihat saja ketika musim panen tiba, para tengkulak datang menghampirinya, rayuan dan tekanan harga agar Samuel Lema menjual mete pada mereka, dalam bentuk gelondongan dengan harga yang murah, bukan dalam bentuk olahan (kacang mete). Kondisi ini karena desakan berbagai kebutuhan akibat himpitan hidup miskin. Dia tak punya pilihan, baginya yang dia tahu ketika panen jual mete pada tengkulak dan memperoleh uang.

Menjual mete dalam bentuk gelondongan tentunya telah mengurangi nilai tambah yang bisa dinikmati oleh petani mete. Biasanya para tengkulak sering memburu hasil panen kesejumlah sentra produksi perkebunan dengan menekankan pembelian kemudian  mereka menjualnya dengan ke beberapa perusahaan penampungan denga harga jauh lebih tinggi.

Harus diakui kemampuan tawar petani masih lemah, umumnya para tengkulak selalu mempermainkan harga pembelian mete terhadap petani.  Implikasinya, petani terpaksa melepasnya dengan harga murah. Beberapa bulan kemudian, saat harga mete meningkat tajam (seiring dengan kelangkaan mete), petani mete hanya bisa gigit jari, karena seluruh mete telah berada di tangan pedagang besar. Idealnya petani mete mampu menyisihkan minimal setengah dari hasil panennya untuk disimpan, sehingga mereka bisa dapat menjual gelondongan saat harga baik atau mengkacip mete selama menunggu musim panen berikutnya.

Itulah sekelumit gambaran Samuel Lema, potret kecil petani mete yang mewakili sebagian besar petani mete lainnya di desa kelahirannya. Memang di desa Samuel Lema tinggal tidak begitu kental dengan pengolahan dan bisnis mete.

Melawan Kemiskinan

Flores adalah salah satu pulau besar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat ini NTT tergolong provinsi miskin di Indonesia. Meski tak terbatahkan Flores terlalu kaya potensi sumber alamnya. Apa yang tidak ada di Flores, semua tersedia, sayangnya hingga kini Flores belum bisa lepas dari belenggu kemiskinan.

Rita Stupf dari lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Swissconcact mengatakan Flores adalah daerah kaya, namun orang-orangnya miskin. Swisscontact membuat  survei komoditi apa yang bisa dihasilkan Flores dan dijual di pasar Eropa dan Amerika Utara. Hasilnya, jambu mete (cashew nut).

"Jambu mete tumbuh secara organik di seluruh Flores," kata Caecilia Widyastuti dari Swisscontact Ende. Mutu jambu mete Flores juga terbaik di dunia. Namun proses penambahan nilai jambu mete itu dilakukan di luar Flores, terutama India.

Jalur distribusinya juga kurang efisien. Para petani Flores kurang memahami kerumitan proses perdagangan jambu mete, dari sebuah kampung di Sikka hingga disajikan restoran mahal di Paris. "Posisi tawar petani juga kurang baik dengan para tengkulak di Flores," ujarnya.

Edi Purwanto Direktur Operation Wallacea Trust dalam kajiannya tentang produksi jambu mete di Indonesia menyebutkan produksi mete gelondongan dalam skala nasional berada di kisaran 95.000 ton per tahun. Penghasil mete  utama adalah Sulawesi Tenggara  (35 % produksi nasional), Sulawesi Selatan (25 %), Lombok, Flores dan Sumbawa (30 %) serta Jawa-Madura (10 %).

Ekspor mete gelondongan terus meningkat selama 10 tahun terakhir, dari segi bisnis, ekspor mete gelondongan memang cukup menggiurkan.Pertama: kualitas mete gelondongan Indonesia lebih baik dibandingkan dari Afrika, karena itu harganya berada di kisaran tertinggi (sekitar 775 USD per metrik ton).

Kedua: Musim panen mete di Indonesia tidak bersamaan dengan musim panen negara penghasil mete utama dunia (musim panen mete Vietnam, India dan Afrika berlangsung dari Februari ingá April), sehingga memiliki daya saing yang tinggi.

Ketiga: Indonesia, secara geografis relatif dekat dengan Vietnam dan India, sehingga proporsi biaya transportasi terhadap total harga penjualan akhir relatif rendah, yaitu hanya sekitar 7 %.  Bandingkan dengan mete dari Afrika Barat yang biaya transportasinya bisa mencapai 40 %.

Pertanyaannya, apakah keunggulan komparatif mete Indonesia telah dinikmati oleh petani mete di pedesaan di tanah air, khususnya pedesaaan di Flores? Jawabanya belum! Ibaratnya masih jauh panggang dari api.

Keunggulan komparatif mete Indonesia selama ini lebih banyak dinikmati oleh para pedagang dan eksportir mete, bahkan sebagian adalah warga negara India yang langsung terjun dalam perdagangan mete di Indonesia. Lalu upaya apa yang perlu dilakukan untuk membuat keunggulan komparatif mete Indonesia bisa dinikmati oleh petani mete yang merupakan masyarakat termiskin.

Untuk meningkatkan kesejahteraan petani mete tidak ada cara lain kecuali memacu mengolah biji mete sebagai industri kecil dalam keluarga. Petani diminta agar tidak langsung menjual biji mete dalam bentuk gelondongan namun lebih dari itu harus diolah agar mendapatkan harga pasar yang lebih baik.

Program industri rumah tangga ini sebelumnnya difasilitasi oleh pihak Dinas Perindag dan Dinas Perkebunan Kabupaten Flores Timur, namun sekarang petani sudah sadar, mereka membeli sendiri mesin pengunmas biji mete menjadi kacang mete, bahkan petani sekarang sudah bisa goreng sendiri dalam bentuk kemasanya untuk dipasarkan.

Seperti yang dilakukan Irawan Djoko Kusnowo (40), kelahiran Dusun Banjardawa, Gedangrejo, Gunungkidul, Yogyakarta, yang kini menetap di Desa Ile Padung,  memiliki keahlian mengolah kacang mete. Dari memecah batok gelondong mete hingga menyajikan mete dalam bentuk cemilan.

Masuk Pasar Ritel

Dia mengaku jambu mete dari Flores memiliki kualitas lebih bagus, sehingga daya jualnya tinggi. Irawan mengolah mete organik dalam bentuk kernel putih dan kacang garing. Prosesnya melalui pematangan oven hingga 12 jam dengan suhu panas mencapai 45 derajat celcius. Mete organik ini pun langsung terasa renyah, manis dan gurih.

Menurut dia, kapasitas produksi mete dari Flores sekitar 20.000 ton per tahun. Adapun, total kapasitas mete di Indonesia sebesar 50.000 ton. Provinsi lain yang turut mengembangkan mete adalah Sulawesi Tenggara. Peluang ekspor untuk mete masih terbuka karena kebutuhan dunia saat ini sekitar 1 juta ton per tahun. Pemasok terbesar mete adalah India, sebanyak 400.000 ton per tahun. Karena itu mete masih memiliki pasar internasional.

Selain itu Irawan tengah mengembangkan produk mete dalam bentuk selai kacang mete. Untuk kebutuhan gula, ia memesan gula semut merah dari Jogjakarta. Ini termasuk organik karena bahan bakunya dari sari pohon kelapa atau Enau.  Ia tengah berusaha keras untuk membuka pasar organik tingkat lokal.

Irawan secara kebetulan mendapatkan kesempatan juga pengalaman berharga, ketika produk olahan jambu mete dari Desa IIe Padung masuk dalam sebuah pameran pangan organik Internasional di Jerman. Namun yang menyedihkan hanya produk mete dari Flores saja yang dipamerkan, padahal semua produk organik dunia ada di Indonesia. Kesedihan Irawan makin bertambah manakala kerupuk bikinan Sidoarjo labelnya Thailand.

Kenapa demikian. Meahvara (Mei) Kanjaya, Director of Merchandising & Marketing PT Matahari Putra Prima, Tbk menilai tak heran dengan banyaknya label asing yang sebenarnya lokal kontennya berasal dari sumber daya dari daerah di Indonesia. Seperti buah rambutan yang telah dikemas dalam kalengan dengan label Made in Thailand. Padahal di Thailand tidak ada pohon rambutan. Pasalnya di negeri gajah putih ini, pengolahan industri UKM telah maju dengan menggunakan teknologi tinggi, itu karena dukungan dan komitmen pemerintah yang sungguh-sungguh, tidak sebatas slogan saja.

Produk UKM dari Thailand sudah banyak yang masuk pasar internasional, khususnya di pusat-pusat ritel modern dunia. Tak terkecuali di Indonesia, khususnya Hypermart sendiri juga menerima pasokan UKM dari Thailand. Harus diakui, lanjut Mei  produk UKM di Thailand memprioritaskan potensi produk yang benar-benar layak, dengan mempersiapkan kemampuan teknologi tinggi, meski  bahan  produknya diperleh dari negara lain, mereka dapat mengemasnya dengan baik.

Di antara beragam produk pabrikan dan impor yang memenuhi seluruh rak pasar ritel modern di tanah air, terdapat beberapa produk UKM yang ikut bersanding di dalamnya. Di Indonesia pemasaran selalu menjadi kendala bagi pengusaha kecil dan menengah dalam mengembangkan usaha. Sehingga meskipun produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang bagus tetap saja tak membuat mereka leluasa bermain di pasaran modern seperti supermarket maupun hypermarket.
 
Menurut Mei produk yang masuk ke hypermarket itu bisa berasal dari produk UKM maupun produk yang berasal pabrikan, dan sudah memenuhi persyaratan. Kendala yang ada saat ini produk UKM itu sulit untuk masuk ke hypermarket karena pelaku UKM kurang memperhatikan hal-hal yang prinsip yang harus ada dalam sebuah produk. Misalnya dari  segi kemasan, maupun produk itu sendiri.

Untuk kemasan, masih banyak produk UKM yang belum mencantumkan tanggal kadaluwarsa dan juga komposisi bahan. Sedangkan produknya kadang-kadang tidak sama, baik itu ukuran maupun rasanya. Mei menambahkan sebenarnya potensi daerah banyak memberi kontribusi pasokan bahan produksi UKM, seperti jambu mete yang punya potensi daya jual tinggi dan diminati masyarakat.

Dengan adanya UKM sebagai pengolah bahan mete bisa berkembang jika mendapat fasilitasi pendampingan dan pembukaan akses pasar. Dengan adanya prospek pasar, komunitas masyarakat tersebut akan dapat terus menjual produknya sehingga masyarakat sejahtera.

Dia mencontohkan Thailand dan China berhail mengembangkan industri UKM dengan sentra-sentra binaan secara professional. Pemerintah memfasilitasi dengan baik, jika sudah maju industri UKM dapat mandiri. “Ibaratnya UKM itu penyu kecil yang tidak bisa dilepaskan begitu saja ke pantai. Mereka butuh perlindungan dan pengawasan,” papar Mei.

Datangkan Investor Bangun Pabrik
Mei juga setuju untuk meningkatkan kualitas produk potensi daerah, perlu mendatangkan investor untuk pembangunan pabrik pengolahan jambu mete. Dengan semakin berkembangnya penanaman jambu mete  di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Flores mengakibatkan produksi jambu mete cukup tinggi. Untuk itu, sudah selayaknya pemerintah bersama investor  mendirikan pabrik pengolahan jambu mete.

Diakui kualitas jambu mete yang sangat bagus membuat para investor terjun langsung ke lokasi untuk membelinya, termasuk pengusaha dari India, tanpa pengawasan yang optimal, sehingga setelah diolah, hasil produk kacang mete dijual memakai nama India.

Dengan adanya pembangunan pabrik mete, dapat mengoptimalkan aset dan potensi komoditas di daerah, sekaligus membatasi tindakan importir yang mengolah jambu mete NTT hingga menjadi bahan jadi lalu mencamtumkan label produk negaranya.

Nantinya petani mengelola sendiri mete tersebut, mereka dipersiapkan dengan kemampuan atau skill untuk mengolah mete. Dengan mengambil tenaga kerja para petani  yang tinggal di sekitar pabrik,  dapat memberikan pekerjaan sampingan dan tambahan penghasilan bagi mereka. (Sigit Suhardi/ Kormen Barus)

Jumlah Komentar masuk : 0
Bookmark and Share
Rubrik Lainnya
Lihat Komentar
Tambah Komentar

Anda belum mendaftar?
klik disini untuk daftar
dan mengisi form registrasi


 

Kalender Event

.

Advertisement

 

 

Free PageRank Checker

Disclaimer >>>> Data dan/atau informasi yang tersedia hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun kegiatan bisnis lainnya. kami tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan di website www.businessreview.co.id ini


www.businessreview.co.id
the indonesia lighthouse of business & state enterprises

PT. Kreasi Multi Media

Jl. Ciputat Raya No. 100 C. Kebayoran Lama 12240
Telp. (021) 729.1766. Fax. (021) 723.8541