MUST READS :

  Regional :
   

Welcome to  Business Review online. The Indonesian Lighthouse of Business & State Enterprises.

EVENTS!

EVENT Sekarang:
Executive Golf Tournament 2010
02 Mar 2010

EVENT Sebelumnya:
Anugerah Bisnis Review 2009
Oktober 2009
 

Kinerja index Saham IHSG


.: SAHAM

IHSG Mantap Melaju di Atas 3.100
02 Sep 2010

Data dari China dan Australia bikin tenaga yen melemah
02 Sep 2010


.: PREDIKSI PASAR

Bursa Asia : Mayoritas indeks acuan Asia pagi ini terbang
02 Sep 2010

Dolar Melemah Terhadap Euro dan Yen
01 Sep 2010

 

Media Group


KEBIJAKAN BISNIS & EKONOMI
Energi Alternatif Setengah Hati
Posted : 12 Mar 2010 | By : Kormen | Komentar : 0

Markus, seorang petani kemiri di Nantal, Borong, Manggarai, Flores Nusa Tenggara Timur menyampaikan rasa penasarannya pada  program energi terbarukan. 

”Ae pa, dari dulu kami dengar kalau jarak bisa dibuat minyak. Kami mau tanam ragu-ragu, karena belum ada kejelasan siapa nanti yang beli, entah perusahaan atau koperasi. Kalau memang itu pandu (jarak-red) ada pembelinya, pasti kami tanam kah,”ujar lelaki paruh baya itu  menanggapi semaraknya pembicaraan seputar energi terbarukan di berapa tahun terakhir ini.

Tapi yang membuat Markus bingung adalah seputar harga minyak tanah yang terus menjujung tinggi. Gas LPG 3 kg, kata dia belum masuk Flores. Sementara mereka mau tidak mau harus membeli minyak tanah Rp 10.000 per liter untuk menyalakan petronas satu malam. ”Tidak ada pilihan lain. ongkosnya sangat mahal,”ujarnya.

Tuntutan perubahan iklim dan terus melambungnya  harga minyak dunia membuat pemerintah begitu serius mencanangkan program energi terbarukan. Peningkatan konsumsi itu juga akibat dari terus meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan konsumsi.

Pertumbuhan itu diikuti dengan peningkatan jumlah industri dan peningkatan penjualan kendaraan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri secara tegas menyatakan prioritas energi ke depan, bersumber energi terbarukan.

Apa yang disampaikan presiden itu memiliki landasan kuat, mengingat Indonesia terkenal kaya dengan sumber energi alternatif. Apalagi energi terbarukan ini memiliki sumber daya energi yang secara alamiah tidak akan habis dan akan berkelanjutan-jika dikelola dengan bak. Sebut misalnya: panasbumi, aliran sungai, panas surya, angin, ombak laut,  suhu kedalaman laut dan energi nabati (biofuel) untuk  bahan bakar substitusi BBM bagi kendaraan dan industri.

Hanya saja potensi yang digadang-gadang sebagai pengganti energi fosil ini pelaksaanya belun begitu optimal, dan  keberadaanya seperti raksasa tidur. Pemerintah yang awalnya begitu antusias menelorkan program, ini, juga seperti setengah hati. Saat ini belum begitu jelas, perangkat regulasi yang mengawal program energi terbarukan.

Inilah fokus perhatian pemerintah ke depannya. Sebab kalau serius dikembangkan, bukan tidak mungkin dapat dijadikan modal pembangunan untuk dikawinkan dengan investasi lain sehingga dapat dimanfaatkan dan menghidupkan perekonomian.

Saat ini pemanfaatan energi terbarukan  masih berkisar di  sektor listrik, berupa  PLTA, PLTP dan belakangan juga  tenaga angin. Sementara pemanfaatan  energi terbarukan di sektor industri dan transportasi  yang bersumber dari  biofuel, masih sangat kecil. Mengapa? Beragam permasalahan. Selain karena  masyarakat sudah terbiasa menggunakan energi dari bahan fosil,  energi terbarukan masih dianggap mahal.

Anggota Dewan Energi  Nasional, Herman Darnel Ibrahim mengakui hal itu, Menurutnya, hambatan  pengembangan energi terbarukan masih terkait dengan mahalnya biaya investasi awal. ”Inilah tantangan yang dihadapi pemerintah dan pelaku energi terbarukan ke depan. Sebelum terjun mengelola energi terbarukan perlu melakukan inventarisasi potensi, survei, eksplorasi dan studi kelayakan,”ujarnya.

Yang diperlukan saat ini ialah komitmen dan keseriusan pemerintah dalam menyiapkan regulasi dalam mendukung program itu. Setidaknya belajar dari Pemerintah Brasil yang terbukti sukses mengatasi krisis energi dan bagaimana mereka mengelola energi alternatif yang berbasis etanol.

Selain sukses di Sepak Bola, negeri Samba itu juga merupakan negara yang sudah maju dalam memproduksi bioetanol berbahan baku tebu untuk campuran premium. Campuran premium dengan bioetanol sebesar 25% (75% premium: 25% bioetanol) sudah dijual ke seluruh SPBU. Hingga kini, tidak ada lagi SPBU di negeri samba yang menjual 100% premium dari fosil.  Lalu mengapa kita tidak?

Didukung dengan regulasi
Untuk memperlancar program ini, pemerintah perlu membuat regulasi jaminan bagi perusahaan yang memproduksi dan menjual energi terbarukan, Seperti adanya subsidi untuk mengganti beban selisih biaya. Dengan cara produk energi terbarukan seperti Bio Pertamax atau bio solar milik PT Pertimina harus dijual dibawah harga Pertamax atau Premium,  guna mendorong daya beli masyarakat.

Kalaui konsumen sudah terbiasa atau adan ya ketergantungan pada energi ini, maka secara perlahan dinaikan. Yang jelas langkah apapun yang diambil dalam memasyarakatkan energi terbarukan, maka harus didukung dengan regulasi yang kondusif sehingga dapat diimplementasikan.

Selain itu saat ini adalah diperlukan regulasi atau pemerintah perlu menekan perbankan untuk bisa melakukan pendanaan di energi terbarukan. ”Tersedianya alokasi pinjaman khusus untuk energi terbarukan dengan jangka yang lebih panjang dan bunga khusus, tentu memerlukan aturan atau campur tangan Pemerintah,”ujar Herman.

Sebenarnya senangat dunia usaha untuk mengelola energi terbarukan sudah cukup tinggi. Tengok saja pengalaman PT Pertamina. Sebagai BUMN dengan laba terbesar yang bergerak dalam sektor Migas, PT Pertamina merupakan pioner dalam energi terbarukan. Jauh sebelum industri lain mencangkan energi terbarukan,  Pertamina telah melakukannya.

Dari sederet jenis sumber energi yang terbarukan yang dikembangkan  Pertamina, yang paling mencuat dan banyak  tersedia di berbagai SPBU ialah energi biofuel. Salah satu biofuel yang digarap Pertamina adalah Biosolar dan Bio Pertamax, yaitu bahan bakar diesel yang terbuat dari unsur hayati-nabati non fosil.

Biosolar misalnya, memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan bentuk energi lain, karena: lebih mudah ditransportasikan,  memiliki kerapatan energi per volume yang lebih tinggi,  memiliki karakter pembakaran yang relatif bersih, dan ramah lingkungan. Kormensius Barus (koregot@yahoo.com).

Jumlah Komentar masuk : 0
Bookmark and Share
Rubrik Lainnya
Lihat Komentar
Tambah Komentar

Anda belum mendaftar?
klik disini untuk daftar
dan mengisi form registrasi


 


Download
Form Registrasi &
Kuesioner ABR 2010
Disini
 

  .

Advertisement





 

 

Free PageRank Checker

Disclaimer >>>> Data dan/atau informasi yang tersedia hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun kegiatan bisnis lainnya. kami tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan di website www.businessreview.co.id ini


www.businessreview.co.id
the indonesia lighthouse of business & state enterprises

PT. Kreasi Multi Media

Jl. Ciputat Raya No. 100 C. Kebayoran Lama 12240
Telp. (021) 729.1766. Fax. (021) 723.8541

 

Powered By :