KEBIJAKAN BISNIS & EKONOMI
Energi Terbarukan Masih Setengah Hati Posted : 12 Mar 2010| By : Kormen| Komentar : 0
(Businessreview Online)-Maria Elisabeth Helni, petani kopi di Borong, Manggarai, Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) pernah menyampaikan rasa penasarannya, setelah beberapa kali menonton berita energi terbarukan di sebuah televisi milik tetangganya. Wanita berusia 35 tahun, itu, merasa heran, sebab sudah lebih dari sepuluh tahun diwacanakan, namun pengembangan energi yang bersumber dari tanaman, itu, belum menyentuh daerahnya.
“Kami di sini tanam singkong buat makan. Kalau di televisi saya lihat mereka buat bensin. Mengapa singkong kami di sini tidak ada yang membeli ya? Apakah karena singkong kita tidak ada minyaknya,” ujarnya penasaran.
Padahal, berdasarkan acara televisi yang disaksikannya, Helni melihat keberhasilan orang-orang di pulau Jawa yang bisa menjadi petani sukses berkat menanam ubi, singkong dan kemudian diolah menjadi minyak mesin. “Saya nonton di tivi, katanya singkong tidak hanya jadi gaplex tapi bisa juga diolah untuk bahan bakar mesin. Begitu juga tanaman liar jarak katanya bisa untuk hidupin mesin oto (mobil red),” ujarnya penasaran.
Tidak saja di nabati, Helni juga menanyakan kebenaran soal panas bumi yang bisa jadi listrik. Apalagi tidak jauh dari kampung Helni, terdapat kolam air panas yang digadang-gadang bisa diolah untuk menjadi pembangkit listrik sehingga nantinya bisa menerangi seluruh kampung yang selama ini belum dijamah listrik. “Eh setiap kampanye partai selalu menyebut itu air panas sebagai energi terbarukan. Nanti kalau mereka menang akan dibuat listrik. Ya banyak yang janji, tapi itu air panas belum juga jadi listrik,”cetusnya kesal.
Rasa penasaran wanita yang pernah mengenyam pendidikan di Kota Malang, itu, punya alasan yang kuat. Pasalnya, sejak beberapa tahun terakhir, dirinya beberapa kali menyaksikan berita televisi seputar keunggulan energi terbarukan. Pemerintah daerah dan termasuk politisi lokal kerap antusias bila bicara energi terbarukan nabati maupun panas bumi di daerahnya. Namun orang-orang di kampung Helni, bernasib seperti korban penerima kabar angin surga. “Tahun demi tahun terlewati, janji datang silih berganti, tapi kegelapan, kekurangan pangan, selalu menghampiri kami,"keluhnya.
Helni menuturkan, walaupun daerahnya terdiri dari lembah ngarai dan separuh tandus, tetapi sebenarnya surga bagi tanaman singkong dan sejenis umbi-umbian lainnya. Sebenarnya ada keinginan yang besar dari Helni dan orang-orang sekampungnya untuk mem-fokuskan diri pada penanaman singkong. Tapi keraguan selalu menempel ketat dalam benak mereka. Terutama pertanyaan seputar siapa nanti yang membeli, entah perusahaan atau koperasi. "Kalau memang itu pandu (jarak-red) ada pembelinya, pasti kami tanam-kah,”ujar wanita paruh baya, ini.
Menurut Helni, orang-orang di daerahnya selalu diselimuti penuh harap agar berbagai potensi ekonomi seperti umbian maupun potensi sumber daya alam, suatu waktu bisa mengangkat perekonomian mereka kearah yang lebih baik. Artinya kata dia, rakyat fokus tanam singkong dan sudah jelas siapa yang akan membeli.
Tapi selama ini, guman Helni, banyak orang yang hanya bisanya bicara dan mendorong untuk budidaya tanaman energi alternatif. ”Ya dari mana kami mulai dan apa yang kami lakukan. Kalau kami tanam, siapa yang beli. Kalau memang itu bagus harusnya ada proyek tanam dari pemerintah?” ujarnya.
Tuntutan Perubahan iklim
Memang tuntutan perubahan iklim dan terus melambungnya harga minyak dunia membuat pemerintah begitu serius mencanangkan program energi terbarukan. Peningkatan konsumsi itu juga akibat dari terus meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan konsumsi. Pertumbuhan itu diikuti dengan peningkatan jumlah industri dan peningkatan penjualan kendaraan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri secara tegas menyatakan prioritas energi ke depan, bersumber energi terbarukan.
Apa yang disampaikan presiden itu memiliki landasan kuat, mengingat Indonesia terkenal kaya dengan sumber energi alternatif. Apalagi energi terbarukan ini memiliki sumber daya energi yang secara alamiah tidak akan habis dan akan berkelanjutan-jika dikelola dengan baik. Sebut misalnya: panas bumi, aliran sungai, panas surya, angin, ombak laut, suhu kedalaman laut dan energi nabati (biofuel) untuk bahan bakar substitusi BBM bagi kendaraan dan industri.
Hanya saja potensi yang digadang-gadang sebagai pengganti energi fosil ini pelaksaanya belun begitu optimal, dan keberadaanya seperti raksasa tidur. Pemerintah yang awalnya begitu antusias menelorkan program, ini, juga seperti masih setengah hati. Saat ini belum begitu jelas, perangkat regulasi yang mengawal program energi terbarukan. Inilah fokus perhatian pemerintah ke depannya. Sebab kalau serius dikembangkan, bukan tidak mungkin dapat dijadikan modal pembangunan untuk dikawinkan dengan investasi lain sehingga dapat dimanfaatkan dan menghidupkan perekonomian.
Saat ini pemanfaatan energi terbarukan masih berkisar di sektor listrik, berupa PLTA, PLTP dan belakangan juga tenaga angin. Sementara pemanfaatan energi terbarukan di sektor industri dan transportasi yang bersumber dari biofuel, masih sangat kecil. Mengapa? Beragam permasalahan. Selain karena masyarakat sudah terbiasa menggunakan energi dari bahan fosil, energi terbarukan masih dianggap mahal.
Anggota Dewan Energi Nasional, Herman Darnel Ibrahim mengakui hal itu, Menurutnya, hambatan pengembangan energi terbarukan masih terkait dengan mahalnya biaya investasi awal. ”Inilah tantangan yang dihadapi pemerintah dan pelaku energi terbarukan ke depan. Sebelum terjun mengelola energi terbarukan perlu melakukan inventarisasi potensi, survei, eksplorasi dan studi kelayakan,”ujarnya.
Yang diperlukan saat ini ialah komitmen dan keseriusan pemerintah dalam menyiapkan regulasi dalam mendukung program itu. Setidaknya belajar dari Pemerintah Brasil yang terbukti sukses mengatasi krisis energi dan bagaimana mereka mengelola energi alternatif yang berbasis etanol.
Selain sukses di Sepak Bola, negeri Samba itu juga merupakan negara yang sudah maju dalam memproduksi bioetanol berbahan baku tebu untuk campuran premium. Campuran premium dengan bioetanol sebesar 25% (75% premium: 25% bioetanol) sudah dijual ke seluruh SPBU. Hingga kini, tidak ada lagi SPBU di negeri samba yang menjual 100% premium dari fosil. Lalu mengapa kita tidak?
Didukung dengan regulasi
Untuk memperlancar program ini, pemerintah perlu membuat regulasi jaminan bagi perusahaan yang memproduksi dan menjual energi terbarukan, Seperti adanya subsidi untuk mengganti beban selisih biaya. Dengan cara produk energi terbarukan seperti Bio Pertamax atau bio solar milik PT Pertimina harus dijual dibawah harga Pertamax atau Premium, guna mendorong daya beli masyarakat.
Kalaui konsumen sudah terbiasa atau muncul ketergantungan pada energi ini, maka secara perlahan dinaikan. Yang jelas langkah apapun yang diambil dalam memasyarakatkan energi terbarukan, harus didukung dengan regulasi yang kondusif sehingga dapat diimplementasikan.
Selain itu saat ini adalah diperlukan regulasi atau pemerintah perlu menekan perbankan untuk bisa melakukan pendanaan di energi terbarukan. ”Tersedianya alokasi pinjaman khusus untuk energi terbarukan dengan jangka yang lebih panjang dan bunga khusus, tentu memerlukan aturan atau campur tangan Pemerintah,”ujar Herman.
Sebenarnya semangat dunia usaha untuk mengelola energi terbarukan sudah cukup tinggi. Tengok saja pengalaman PT Pertamina. Sebagai BUMN dengan laba terbesar yang bergerak dalam sektor Migas, PT Pertamina merupakan pioner dalam energi terbarukan. Jauh sebelum industri lain mencangkan energi terbarukan, Pertamina telah melakukannya.
Dari sederet jenis sumber energi yang terbarukan yang dikembangkan Pertamina, yang paling mencuat dan banyak tersedia di berbagai SPBU ialah energi biofuel. Salah satu biofuel yang digarap Pertamina adalah Biosolar dan Bio Pertamax, yaitu bahan bakar diesel yang terbuat dari unsur hayati-nabati non fosil.
Biosolar misalnya, memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan bentuk energi lain, karena: lebih mudah ditransportasikan, memiliki kerapatan energi per volume yang lebih tinggi, memiliki karakter pembakaran yang relatif bersih, dan ramah lingkungan. Kormensius Barus (koregot@yahoo.com).
Jumlah Komentar masuk :0 Rubrik LainnyaLihat Komentar Tambah Komentar
Anda belum mendaftar? klik disini untuk daftar
dan mengisi form registrasi
www.businessreview.co.id the indonesia
lighthouse of business & state enterprises
PT. Kreasi Multi Media
Jl. Ciputat Raya No.
100 C. Kebayoran Lama 12240
Telp. (021) 729.1766. Fax. (021) 723.8541