MUST READS :

  Regional :
   

Welcome to  Business Review online. The Indonesian Lighthouse of Business & State Enterprises.

EVENTS!

EVENT Sekarang:
Executive Golf Tournament 2010
02 Mar 2010

EVENT Sebelumnya:
Anugerah Bisnis Review 2009
Oktober 2009
 

Kinerja index Saham IHSG


.: SAHAM

IHSG Mantap Melaju di Atas 3.100
02 Sep 2010

Data dari China dan Australia bikin tenaga yen melemah
02 Sep 2010


.: PREDIKSI PASAR

Bursa Asia : Mayoritas indeks acuan Asia pagi ini terbang
02 Sep 2010

Dolar Melemah Terhadap Euro dan Yen
01 Sep 2010

 

Media Group


KEBIJAKAN BISNIS & EKONOMI
Prioritaskan Gas Untuk Domestik
Posted : 12 Mar 2010 | By : Kormen | Komentar : 0

(Businessreview)- Mery, ibu dua anak yang tinggal di bilangan Cilangkap Jakarta Timur baru sadar kalau gas lebih baik dari minyak tanah. Selain karena lebih hemat dan nyaman, gas juga mendukung dapur selalu bersih.

”Saat pemerintah ramai mencanangkam program tabung gas 3 kg, saya sangat keberatan, karena takut mahal dan takut meledak. Kini saya merasakan betapa gas itu jauh lebih bagus dari minyak tanah,” tutur ibu rumah tangga berusia 39 tahun ini,  saat membelanjakan gas 3 kg di toko  gas dekat rumahnya.

Menurutnya, tiap dua hari sekali Ia mengisi gas. Gas 3 kg yang dibeli dengan Rp 14.000 jauh lebih murah apabila dibandingkan dengan minyak tanah yang dalam sehari harus membutuhkan 2 liter dengan total biaya Rp 18.000. Satu liternya Rp 9.000. ” Sudah saya bandingkan, lebih hemat pakai gas mas,”ujarnya menebar senyum.

Perempuan yang hanya mengenyam pendidikan SMA itu, sempat terdiam,  kemudian bertanya soal penyediaan gas. ”Apa gas nantinya tidak akan langkah seperti minyak tanah?” tanyanya penuh penasaran. ”Tidak tahu juga. Kami hanya menjual. Kalau tidak salah yang punya gas kan Pertamina. Mungkin di kantornya banyak,”ujar pelayan toko sembari melayani pembeli lainnya.

Pertanyaan Mery seputar keberadaan gas adalah pertanyaan klasik seputar ketersediaan gas di negeri ini. Konsumen saat ini sudah demikian fanatik dengan bahan bakar gas. Apalagi BUMN Pertamina tahun lalu sukses memecahkan rekor dalam memasarkan dan mensosialisasikan tabung gas 3kg di Indonesia, hal ini memberikan sinyal bahwa ketergantungan akan gas demikian tinggi.

Perusahaan minyak kebanggan bangsa yang akan menjadi BUMN terbuka non listed ini, berhasil melaksanakan program konversi minyak tanah ke LPG selama 2009. Pendistrisbusian tabung dan kompor mencapai 24,1 juta kepala keluarga (KK) dari target 23,7 juta KK atau mengalami kenaikan setara 101%. "Akumulasi penghematan subsidi yang dicapai sebesar Rp15 triliun, apalagi dikurangi dengan biaya paket konversi Rp10 triliun maka diperoleh net penghematan sebesar Rp5 triliun," ujar Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Faisal,

Pengamat Masalah gas, Qoyum Tjandranegara mengatakan, gas adalah energi yang sangat murah, efisien, dan ramah lingkungan. Sayangnya energi yang baik itu dijual ke luar negeri dan untuk mengganti yang murah itu kita membeli BBM  yang harganya dua kali lipat dari gas.

“Kan aneh, yang bagus dikirim ke Negara tetangga dan yang mahal kita beli.  Ini jelas membebani keuangan negara karena harus membayar subsidi dan kehilangan devisa untuk membeli BBM, Oleh karena sejalan dengan terus meningkatkan pemakaian  gas dalam negeri, maka sejatinya alokasi gas perlu diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri,”ujarnya.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki cadangan gas terbesar  di Asia Pasifik. Cadangan  yang ada diperkirakan cukup untuk penggunaan 45,7 tahun ke depan. Selama ini, sebagian besar produksi gas dalam negeri yang tergolong murah itu digunakan untuk tujuan ekspor dalam bentuk LNG. Alokasi pasar ekspor gas bumi dalam bentuk LNG, itu, telah dilakukan  sejak akhir dasawarsa 1970-an.

Sementara untuk konsumsi dalam negeri, Indonesia harus rela memakai energi mahal seperti Bahan Bakar Minyak (BBM). Padahal harga gas bumi sangat bersaing, tidak memerlukan subsidi dan dapat menghemat subsidi BBM. Apalagi gas bumi dapat langsung dimanfaatkan serta tidak memerlukan  import bahan lain.

Seiring dengan keterbatasan pemakaian BBM, tren pemakaian gas domestik pun kian tumbuh bahkan melebihi kemampuan suplai. Hal itu  sejalan dengan meningkatnya kebutuhan pembangkit tenaga listrik, pupuk dan industri yang sudah konversi ke gas. Menurut hitungan pemerintah,  konversi sumber energi dari minyak ke gas bumi, ini,  dapat menghemat biaya produksi sebesar  Rp24  triliun per tahun.

Dengan suplai gas bumi  ke PLN misalnya, maka  penghematan untuk subsidi BBM bisa mencapai Rp12-15 triliun per tahun. Penghematan itu memberikan multiplier efeck yang besar luar biasa untuk membiayai berbagai program pemerintah. Industri lain, di luar PLN pun akan merasakan penghematan.. Belum keuntungan dari sisi lingkungan, karena gas bumi itu emisinya bersih, dibandingkan pemanfaatan baik bahan bakar minyak maupun batubara.

Inilah yang membuat kebutuhan akan gas bumi diprediksikan akan menjadi solusi utama untuk penyediaan energi masa depan. Apalagi  Bio Energy yang sebelumnya digadang-gadang akan menjadi solusi, hingga kini belum efektif di produksi secara ekonomis dan masal.

Hanya saja, semangat untuk memanfaatkan gas secara menyeluruh tak semudah membalikan telapak tangan. Gas masih seperti the sleeping giant. Pemanfaatkan gas dalam negeri masih belum optimal, juga dipicu kendala geografis; lokasi sumber gas berjauhan dari lokasi pengguna. Sementara untuk pemanfaatan cadangan, selain memerlukan investasi besar juga membutuhkan keahlian yang tinggi. Ini juga yang menjadi alasan terbatasnya infrastruktur gas bumi di dalam negeri.

Selama ini mayoritas produsen gas bumi adalah pihak asing. Perusahaan-perusahaan sektor hulu tersebut diantaranya: Total Indonesie, Conoco Philips, British Petroleum serta  BUMN Pertamina. Dari tahun ke tahun, total produksi mengalami peningkatan. Produksi gas bumi di tahun 2009 saja, diperkirakan mencapai  7,200 MMscfd yang berdasarkan  working plan and budget. 

Memang untuk mendukung daya saing dunia industri Indonesia dengan pemanfaatan gas ke depan, maka diperlukan kebijakan yang berorientasi pada kebutuhan nasional. Misalnya ekspor gas dibatasi dan alokasi produksi gas diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri. Kormen(koregot@yahoo.com).

Jumlah Komentar masuk : 0
Bookmark and Share
Rubrik Lainnya
Lihat Komentar
Tambah Komentar

Anda belum mendaftar?
klik disini untuk daftar
dan mengisi form registrasi


 


Download
Form Registrasi &
Kuesioner ABR 2010
Disini
 

  .

Advertisement





 

 

Free PageRank Checker

Disclaimer >>>> Data dan/atau informasi yang tersedia hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun kegiatan bisnis lainnya. kami tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan di website www.businessreview.co.id ini


www.businessreview.co.id
the indonesia lighthouse of business & state enterprises

PT. Kreasi Multi Media

Jl. Ciputat Raya No. 100 C. Kebayoran Lama 12240
Telp. (021) 729.1766. Fax. (021) 723.8541

 

Powered By :