MUST READS :

Tawarkan Fleksibilitas dan Return Optimal, ETF Tumbuh Pesat

ETF secara sederhana dapat diartikan sebagai Reksa Dana yang diperdagangkan di BEI, menjanjikan fleksibilitas dengan return yang optimal kepada para investor yang berinvestasi pada produk tersebut.

  Regional :
   

ADVERTISMENT       ADVERTISMENT       ADVERTISMENT      ADVERTISMENT

EVENTS!

EVENT Sekarang:
Anugerah Business Review 2013
24 September 2013

EVENT Sebelumnya:
 

Kinerja index Saham IHSG


.: SAHAM

IHSG gunakan jurus bertahan hingga akhir sesi II
27 Aug 2014

IHSG Berhasil Menguat 16 Poin ke 5.165
27 Aug 2014


.: PREDIKSI PASAR

Indeks Minim Sentimen Positif, Tujuh Saham Ini Jadi Pilihan
27 Aug 2014

Pasar Nantikan Gambaran Kabinet Jokowi, Akumulasi Empat Saham Ini
27 Aug 2014

 

Advertisment

Iklan QNB

Island Shop

 

Media Group
 

 


Notice: Undefined variable: enPath in /home/capitalm/public_html/businessreview.co.id/rubrik_read.php on line 49

Notice: Undefined variable: enPath in /home/capitalm/public_html/businessreview.co.id/rubrik_read.php on line 50

Notice: Undefined variable: time in /home/capitalm/public_html/businessreview.co.id/rubrik_read.php on line 83

Notice: Undefined variable: hal in /home/capitalm/public_html/businessreview.co.id/rubrik_read.php on line 83

Notice: Undefined variable: linkl in /home/capitalm/public_html/businessreview.co.id/rubrik_read.php on line 96

KEBIJAKAN BISNIS & EKONOMI
PAUD, Meretas Jalan SDM Masa Depan
Posted : 31 Aug 2013 | By : kormen barus | Komentar : 0

Businessreview Online-Keluarga memiliki peranan penting dalam membentuk karakter seorang anak. Sebagai suatu sistem sosial terkecil, keluarga menanamkan nilai-nilai moral dalam kepribadian seorang anak. Apalagi saat masa pertumbuhan, seorang anak biasanya memiliki banyak pertanyaan mengenai hal-hal yang dirasanya baru. Pertanyaan-pertanyaannya itu kritis dan cerdas. Disinilah dituntut kemampuan komunikasi yang baik yang harus dimiliki oleh setiap orang tua dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh sang anak.

Sekadar contoh saja, bagaimana kegelisahan ibu Floriana, yang berdomisili di Kawasan Pinang Ranti Jakarta Timur. Dirinya mengaku kelabakan saat ditanya seputar korupsi oleh putri sulungnya yang duduk di kelas VI SD. Yang merasa penasaran dengan maraknya para pejabat terlibat kasus korupsi. Padahal mereka adalah orang-orang yang matang dari segi pendidikan, materi yang cukup, dan terkesan religius.

Floriana sepakat agar  pendidikan moral harus ditanamkan sedari dini kepada anak anak sehingga mengakar sampai mereka dewasa. Itulah yang mendorong Floriana sangat selektif dalam memilih sekolah, karena kata dia, penentuan tempat pendidikan dini secara tepat dan baik sangat berdampak kepada pemahaman mereka terhadap pentingnya pendidikan dan sekaligus dasar menuju masa depan.

Terhadap metode pengajaran, dirinya mengakui, kalau sekolah-sekolah TK saat ini tak sedikit yang mengharuskan murid muridnya bisa baca tulis dan berhitung. Menurutnya, semua itu tidak terlepas karena banyak sekolah yang mengsyaratkan anak anak harus bisa baca tulis dan berhitung saat masuk SD.

Sebenarnya Ketua Komisi Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait, pernah menegaskan agar anak-anak berusia balita (bawah lima tahun) yang mengikuti pendidikan anak usia dini seharusnya tidak diberikan pendidikan baca tulis dan hitung. Tetapi didesain lebih pada sosialisasi pendidikan kepada anak, seperti berkenalan kepada temannya, bagaimana berinteraksi dan sosialisasi; bukan baca hitung. Berhitung itu seharusnya dimulai dari kelas I SD.

Floriana setuju dengan pernyataan itu, namun kata dia, kalaupun diwajibkan baca tulis dan berhitung, diyakininya di PAUD, pengajarannya sudah dilakukan dengan metode khusus yang tidak terasa berat untuk dicerna oleh anak-anak. “Ya sebagai seorang ibu tentu bangga juga apabila anak bisa baca tulis dan hitung sejak SD,”cetusnya.

Berbeda dengan Floriana, Elisabeth yang bermukim di Desa Sita Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengaku tidak mengsekolahkan anaknya di PAUD atau taman kanak-kanak (TK). Karena di kampungnya belum ada lembaga pendidikan tersebut. Praktis saat berusia tujuh tahun baru masuk SD dan saat itulah anak-anaknya baru mengenal baca tulis dan berhitung. Elisabeth sebenarnya sangat senang apabila program PAUD sudah masuk ke kampungnya terutama dalam membantu masyarakat di bidang pendidikan usia dini.

Tapi tanpa PAUD dan TK, dirinya tetap gigih memperjuangkan pendidikan dan menanamkan nilai moral kepada anak-anaknya. Seperti soal kedisiplinan, kejujuran, toleransi terhadap perbedaan, tanggungjawab, menyadari pentingnya bersekolah, Termasuk juga soal kebersihan seperti mencuci tangan sebelum makan, membiasakan diri menggosok gigi serta melatih untuk tidak jamban di sembarang tempat.

Jarak sekolah dengan rumah sekitar tiga km dan anak-anaknya sudah terbiasa dengan jalan kaki. Selain sekolah dan belajar, anak-anak mereka dibiasakan dengan membantu pekerjaan yang ringan, seperti membantu ibu memasak, mencari kayu bakar atau menimba air yang jaraknya cukup jauh. “Dengan ragam kondisi itu anak-anak diberi kesadaran untuk sekolah supaya bisa maju seperti orang-orang di pulau Jawa,”ujarnya menebar senyum.

Itulah Elisabeth. Dia berharap lembaga PAUD sudah menyebar ke desa desa, sehingga lahir pengajar-pengajar yang menjadi juruslamat bidang pendidikan, terutama memotivasi anak-anak orang desa untuk pentingnya sekolah dan memberikan bekal dasar pendidikan moral.
Karena problem utama mengapa tidak bergairah untuk sekolah, rata-rata dipicu oleh anggapan yang ada dalam masyarakat bahwa sarjana banyak yang menganggur sehingga  untuk apa bersekolah. Sekolah seolah-olah jadi pegawai negeri (PNS). Tak ada pemahaman agar anak diberi pendidikan wirausaha. Intinya, anak-anak tidak mendapat pemahaman mengenai manfaat bersekolah.

Misalnya pada jam sekolah, anak-anak usia sekolah, lebih tertarik bermain di sungai atau mencari katak dibandingkan  ke sekolah. “Ya rata rata penyakit utama orang di kampung ialah, kurang memotivasi anak untuk bersekolah dan seolah- olah itu tugas guru saja. Padahal  tantangan utama kata dia ialah  jumlah putus sekolah di usia dini di kampungnya masih tinggi. Ini harus diperangi,”ujarnya.

Yang jelas, sejurus dengan perkembangan zaman, tantangan setiap keluarga dalam mendidik anak memiliki kompleksitas yang berbeda berbeda. Apalagi keluarga masa kini memiliki fungsi yang lebih kompleks, di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Psikolog Ratih Ibrahim, menyatakan, seharusnya di setiap keluarga terbangun sebuah kesadaran bahwa pendidikan bukan hanya dari sekolah. Alternatif pendidikan itu bisa disediakan oleh orangtua. Dengan demikian, kata Ratih, kalau orangtua percaya diri akan anaknya dan gaya mendidik mereka, maka anak akan menemukan potensi mereka.  "Sebetulnya, paling penting, itu disediakan oleh orangtua karena mereka kenal dengan baik psikologis perkembangan anaknya,”ujarnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal, Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog, menegaskan pendidik pertama anak adalah pada ibu karena peranan ibu sangat menentukan berhasil tidaknya anak di masa depan. Jika memang ada Ibu yang berkomitmen memilih pekerjaan di luar rumah, dan memilih orang lain untuk pendidikan anaknya hendaknya lebih dulu mengutamakan kepentingan anak.

Hal lain yang diperhatikan ibu kata dia adalah pada usia anak 0-6 tahun, jadikanlah anak sebagai raja dan harus mengikuti semua keinginannya. Jangan banyak melarang terhadap anak Balita, karena masa usia itu adalah masa yang paling indah. Tapi begitu usia anak 7-14 tahun, para ibu mulai menerapkan aturan-aturan.

Semua aturan harus dibuat mulai dari ganti baju dan cuci kaki kalau mau tidur, cuci tangan sebelum makan, gosok gigi dan lain-lain. Karena usia itu masa kritis sehingga anak harus patuh terhadap aturan yang dibuat kalau tidak, kelak anak akan tidak punya aturan.

Memang pendidikan karakter sejak dini terhadap seorang anak bisa dianalogikan seperti pohon yang memilki akar yang kuat menghujam ke tanah akan kokoh berdiri dan tidak mudah tumbang. Berbeda dengan pohon yang akarnya tidak begitu dalam menghujam ke tanah, ketika ada angin yang tidak begitu kuat datang menerjang, maka akan tumbang.

Itulah pendidikan. Bisa disebut pendidikan itu adalah proses menemukan talenta dan karakter setiap orang. Maka celakalah kalau proses pendidikan itu tidak mampu membangkitkan dan mengembangkan talenta dan karakter para anak didik. Lalu, mulai terjebak pada tuduhan dan apresiasi: bodoh dan pintar. Padahal seorang pintar hanya bidang tertentu, dan dianggap bodoh juga dalam bidang tertentu.

Anggaran PAUD Ditingkatkan

Penyelenggaraan PAUD akan merata ke seluruh pelosok negeri bukan tidak mungkin terwujud. Apalagi pemerintah sendiri telah menjanjikan program pendidikan bagi 1,35 juta anak usia dini menjadi salah satu prioritas dalam kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun yang akan datang.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M Nuh menyatakan, jumlah anak berusia 3-6 tahun di Indonesia akan mencapai angka 40 juta anak. Kemendikbud akan meningkatkan perhatian pada lembaga PAUD dengan menyediakan dana Bantuan Operasional dan Perawatan (BOP) bagi 45 ribu lembaga PAUD yang ada.

Sebenarnya Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, sejak tahun 2003 mulai menggalakkan program PAUD dalam upaya mencetak dan menyiapkan generasi bangsa yang cerdas, sehat, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Adapun rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.

Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog menyatakan pengembangan PAUD tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Peran serta swasta dan masyarakat justru yang lebih penting.

Pada tahun ini pihaknya hanya mengalokasikan bantuan rintisan PAUD baru untuk 1.491 lembaga karena keterbatasan anggaran. Sedangkan di Indonesia masih ada lebih dari 25 ribu desa yang belum memiliki PAUD. Dirjen berharap hendaknya ada minimal satu lembaga PAUD setiap satu desa. Dirinya berharap agar kepala desa mau membuat anggaran untuk mendirikan lembaga PAUD.

Dari sekitar 55 juta anak usia dini yang tersebar di seluruh Indonesia, baru sekitar 28 juta di antaranya yang masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sisanya sekira 20 juta lebih belum terlayani. Ini perlu menjadi perhatian agar anak PAUD tidak menjadi penyumbang buta aksara di masa datang.

Menurutnya, karena alokasi dana pengembangan PAUD melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak cukup untuk meng-cover pendidikan anak usia dini di seluruh Indonesia, sehingga diharapkan peran aktif pemerintah di daerah untuk membantu.

Selain keterbatasan anggaran, dia menyinggung juga soal data anak usia dini yang dinilai belum tersaji secara baik sebagai salah kendala dalam pengembangan program dan pembiayaan yang terkait dengan pendidikan anak usia dini.
Menurutnya, PAUD adalah amanat dari Deklarasi Dakar sehingga perlu diimplementasikan. Masyarakat tidak tahu kalau anak usia dini adalah usia emas, dan  pemerintah pusat ingin mempersembahkan anak yang cerdas dan kompetitif pada saat menyambut 100 tahun Indonesia merdeka tahun 2045 mendatang.

Lydia Freyani Hawadi meminta agar setiap masyarakat memiliki komitmen besar terhadap masa depan anak. Anggaran pusat memang ada tapi sedikit sehingga diperlukan kerjasama antara pemerintah daerah provinsi. Dia melihat  jumlah bayi yang lahir 3,5 juta jiwa setiap tahunnya akan menjadi persoalan bangsa.

PAUD merupakan pendidikan yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan SDM. Pentingnya perhatian pada SDM membuat banyak negara menaruh perhatian  besar pada penyelenggaraan PAUD.

Apalagi Indonesia yang digadang gadang mempunyai potensi besar untuk menjadi negara maju.  Karena didukung dengan Sumber daya alam yang berlimpah. Namun semuanya itu akan mampu dikelola dengan baik apabila Indonesia memiliki kekuatan SDM yang mengelolanya secara optimal.

Lydia Freyani Hawadi, menyebut tiga syarat yang harus dipenuhi masyarakat Indonesia untuk menjadi bangsa maju dan memimpin dunia. Yaitu  global mindset, global entrepreneurship, dan global citizenship. Pola pikir, kewirausahaan, dan jejaring dengan warga dunia lainnya menjadi poin penting untuk menyongsong masa depan Indonesia. Ketiga hal ini bertalian erat dengan dunia pendidikan. Oleh sebab itu, seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan harus menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.

Ada dua tujuan mengapa perlu diselenggarakan PAUD, yaitu: membentuk anak Indonesia yang berkualitas.Anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.

 Lydia Freyani Hawadi menyatakan, sebaiknya anak-anak usia 2-6 tahun diikutkan PAUD karena di tempat ini anak-anak mendapat pengalaman, sosialisasi, serta pengajaran pada masa terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Menurutnya, PAUD dapat memberikan manfaat yang nyata terhadap perkembangan kecerdasan dan moral anak. PAUD menanamkan kejujuran, disiplin, cinta sesama, cinta tanah air, bahkan tentang gizi. Menurutnya, penyampaian nilai-nilai dasar tersebut semakin efektif jika diberikan sejak usia dini. Esensi dari PAUD adalah pemberian rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh-kembang anak dan dilaksanakan melalui pendekatan bermain sambil belajar. Kormen

 


Notice: Undefined variable: linkl in /home/capitalm/public_html/businessreview.co.id/rubrik_read.php on line 138

Notice: Undefined variable: linkt in /home/capitalm/public_html/businessreview.co.id/rubrik_read.php on line 139
Jumlah Komentar masuk : 0
Bookmark and Share
Rubrik Lainnya
Lihat Komentar
Tambah Komentar


Notice: Undefined variable: add in /home/capitalm/public_html/businessreview.co.id/rubrik_read.php on line 172

Notice: Undefined variable: add in /home/capitalm/public_html/businessreview.co.id/rubrik_read.php on line 213

Anda belum mendaftar?
klik disini untuk daftar
dan mengisi form registrasi


 

 

Advertisment

Iklan KAI

 

Video

Dowload Movie

 

Free PageRank Checker

Disclaimer >>>> Data dan/atau informasi yang tersedia hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun kegiatan bisnis lainnya. kami tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan di website www.businessreview.co.id ini


www.businessreview.co.id
the indonesia lighthouse of business & state enterprises

PT. Kreasi Multi Media

Jl. Ciputat Raya No. 100 C. Kebayoran Lama 12240
Telp. (021) 729.1766. Fax. (021) 723.8541