(BusinessReview Online)- Sebelum makan, Agus Setiawan (9 th) selalu mencuci tangan terlebih dahulu dengan sabun. Perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan Tuti Trisnawati (6th) membuang sampah di tempatnya, menggosok gigi sesudah makan serta cuci kaki dan tangan menjelang tidur.
Bagi kedua anak yang masih duduk di sekolah dasar ini, menjalani hidup sehat sudah menjadi hal biasa. Karena, mereka melakukan hidup sehat ini semenjak dalam keluarga.
“Mama telaten mengajari hidup sehat sejak kami kecil. Seperti mencuci kaki sebelum tidur, mencuci tangan sebelum makan, membuang sampah pada tempat. Kalau kami tidak mau melakukannya, mama akan marah,” ujar Agus yang diamini Tuti.
Buah dari perilaku hidup sehat yang diterapkan dalam keluarga, menghasilkan anak peduli sehat. Agus dan Tuti sadar betul menjaga kebersihan dan kesehatan. Tak ayal, keduanya kini tumbuh sehat dan bersih. Agus akan marah dan menegur adiknya Tuti bila tidak mencuci tangan sebelum makan ataupun membuang sampah di sembarang tempat.
Mengajarkan anak untuk hidup sehat memang harus ditanamkan sejak dini. Menjaga kebersihan dan merawat diri menjadi bagian yang harus diajarkan orang tua dalam masa pertumbuhan anak. Berperilaku hidup sehat, akan mengantarkan si kecil menjadi tumbuh sehat. Tentu juga didukung dengan makanan, lingkungan dan pendidikan yang baik.
Perilaku sehat dari keluarga
Perilaku peduli sehat ini juga terbawa sampai di sekolah. Agus senantiasa memberi contoh pada teman-temannya untuk mencuci tangan sebelum menyantap “bekal” yang dibawa dari rumah.
Selain peduli sehat, Agus juga sangat pandai bergaul, bersosialisasi termasuk siswa berprestasi. Karena itu, Agus dibaptis terpilih sebagai dokter kecil di sekolahnya. Dengan cukup memenuhi syarat, badannya tinggi, sehat, serta memiliki watak pemimpin dan bertanggung jawab.
Agus sangat senang dengan predikat yang disandangnya. Semenjak dilantik sebagai dokter kecil, Agus kini memiliki tugas dan kewajiban yang tidak sama dengan teman-teman lainnya. Ia dituntut selalu bersikap dan berperilaku sehat. Ia juga harus dapat menggerakkan teman-teman untuk berperilaku sehat dan bersih minimal untuk dirinya sendiri.
Agus kerap kali membantu guru dan petugas kesehatan pada kegiatan pelayanan kesehatan seperti pengukuran tinggi badan dan berat badan.
Bersama teman-teman yang terpilih sebagai dokter kecil di sekolahnya turut berperan aktif dalam rangka peningkatan kesehatan antara lain, pekan kebersihan, pekan gizi, pekan penimbangan BB dan TB di sekolah, pekan kesehatan Gigi, Pekan kesehatan Mata dan lain-lain.
Agus dan Tuti merupakan produk dari pola hidup sehat dan bersih yang ditanamkan sejak dini oleh kedua orang tuanya, Bambang Sasongko (45) dan Nining Widyasari (40).
Bagi Bambang dan Nining tidak mudah menerapkan pendidikan sehat bagi kedua buah hatinya. Mengajari anak untuk menjalani pola hidup sehat memang gampang-gampang susah, apalagi bila anak belum memahami betul keuntungan yang bisa dipetik dari pola hidup tersebut.
“Kita harus sabar dan telaten ngajari mereka. Yang penting sebagai orang tua, jangan pernah putus asa untuk membiasakan hidup bersih pada si kecil,” ujar Bambang
Bambang dan Nining potret keluarga yang sukses mengajarkan putra-putrinya untuk hidup sehat. Kebiasaan hidup sehat ini akan membuat generasi penerus bangsa tetap sehat. Penting nya menjaga kebersihan dan merawat diri menjadi bagian yang harus diajarkan orang tua dalam masa pertumbuhan anak. Jika diajarkan sejak dini, anak akan terbiasa menjaga lingkungannya tetap bersih dan kesehatannya tetap terjaga.
Ujung tombak UKS
Beberapa cara membiasakan anak untuk hidup bersih yakni mengajarkannya untuk selalu membuang sampah ke tempatnya dan mencuci tangan memakai sabun.
Dalam membiasakan hidup bersih ini, orang tua memang membutuhkan teknik tersendiri. Cara yang paling utama adalah dengan menciptakan lingkungan, keadaan, dan kegiatan yang menyenangkan bagi si anak.
Menanamkan budaya hidup bersih juga dapat digunakan sebagai satu media pembelajaran untuk penerapan disiplin. Bagaimana cara mengajarkannya?
Orang tua harus menjadi contoh. Anak perlu dibiasakan untuk melakukan hal-hal yang bisa diawali dengan teladan dari orang tua.
Mantan Direktur Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI, Prof dr Umar Fahmi Achmadi MPh PhD, mengatakan menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat sebaiknya mulai ditingkatkan.Tak hanya di rumah, budaya ini sebaiknya juga diterapkan di sekolah. Mengingat sekolah merupakan rumah kedua bagi anak-anak. Anakanak harus sudah diajarkan untuk menyehatkan lingkungan sekolah, karena hal ini harus dilakukan sejak dini.
Apa alasan mengapa sekolah harus bersih? Alasanya adalah karena sekolah merupakan tempat berkumpulnya para murid, dan murid adalah orang-orang yang rentan terhadap penyakit. Arahkan anak-anak untuk berperan aktif mencegah terjadinya kondisi tidak sehat,sebelum terjadi akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kondisi yang tidak sehat. Upaya yang bisa dilakukan di antaranya dengan melakukan penyuluhan.
Tujuannya agar anak mengerti bagaimana menjaga lingkungan sekolah agar tetap sehat. Menjaga kesehatan di sekolah bisa dimulai dari ruang kelas. Ruang kelas sebaiknya memiliki ventilasi udara dan pencahayaan yang memadai. Selain ruang kelas, sekolah juga harus memiliki sanitasi yang memadai.
Agar anak lebih memahami pentingnya kesehatan dan mengajaknya berperan aktif, ajaklah anak bergabung dengan unit kesehatan sekolah (UKS) Mengajak anak untuk mengikuti kegiatan unit kesehatan sekolah (UKS) juga bisa disarankan,di antaranya agar mereka mengerti seperti apa mewujudkan lingkungan yang sehat.
Selain mengikuti kegiatan UKS, anak juga bisa diajak untuk memilih kegiatan ekstrakulikuler dokter kecil. Dengan kegiatan dokter kecil, anak dapat membangun perilaku hidup bersih dan sehat. Bahkan,anak dapat menjadi penggerak hidup sehat juga membantu guru dan petugas kesehatan dalam melayani kesehatan.
Peran aktif untuk mengingatkan anak agar membangun budaya bersih yang dilakukan di sekolah, selain orangtua, guru juga dibutuhkan keterlibatannya dalam menyosialisasikan perilaku sehat kepada anak. Itu sebabnya, guru sangat penting mendapat edukasi agar bisa memberikannya kepada anak didiknya.
Sebagai pendidik, guru tentunya sangat berpengaruh dalam menanamkan dan menyebarkan mengenai perilaku sehat kepada anak-anak didiknya.Namun lebih penting, guru juga bisa berperan besar dalam memberi kesinambungan dalam menggalang perilaku sehat.
“Penanaman budaya perilaku hidup bersih sehat (PHBS) sejak dini diyakini akan membawa pengaruh positif bagi internalisasi dan implementasi budaya kesehatan dengan pendekatan promotif di Indonesia,” kata dr Handrawan Nadesul selaku penggiat Dokter Kecil dan edukator PHBS pada Kamp Dokter Kecil Lifebuoy.
Selain orang tua, yang bisa memberikan motivasi dan dorongan hidup bersih kepada anak adalah teman seumurannya. Karena itu, peran Dokter Kecil di sekolah menjadi penting. Bisa dibilang, mereka ini merupakan penggerak kesehatan di lingkungan sekolah. ”Revitalisasi Dokter Kecil merupakan program yang sangat implementatif karena terjangkau dan termonitor secara berkelanjutan dalam institusi sekolah,” kata Handrawan.
Peran Dokter Kecil yang merupakan ujung tombak program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dalam memperhatikan kesehatan anak sekolah. Dokter Kecil membuat anak sekolah jadi sadar sehat. Karena itu, Dokter Kecil di tingkat sekolah dasar akan direvitalisasi untuk bisa menjadi pahlawan kesehatan Indonesia.
Tugas Dokter Kecil di antaranya memberikan pengetahuan tentang hidup sehat dan menginformasikan pengetahuan soal gizi di hadapan teman-temannya. Bukan hanya itu, para dokter cilik ini juga menjalani penyuluhan ke kantin sekolah dan memberikan pengetahuan kepada teman sekolahnya mengenai mana jajanan yang sehat dan yang tidak.
Dokter kecil juga mempunyai peran penggerak menjalankan usaha kesehatan sesama teman dan diri sendiri, memelihara kebersihan, kesehatan di sekolah maupun di rumah dan pengerak budaya hidup sehat.
"Hasil penelitian yang dilakukan, ada hubungan program dokter kecil dengan pengetahuan, sikap, dan praktik kebersihan pada siswa yang diteliti. Selayaknya setiap sekolah dasar melatih, membentuk dokter kecil bekerjasama dengan tenaga kesehatan di Puskesmas," ungkap Menteri Kesehatan, dr Endang Rahayu Sedyaningsih
Menurut Endang, pembentukan dokter kecil sebagian besar sudah dilaksanakan di berbagai SD. Namun, keberadaannya belum dimanfaatkan maksimal. Ia berharap SD yang mempunyai dokter kecil jangan hanya membentuk dan melatih, tetapi melibatkan dalam berbagai bentuk pelayanan kesehatan.
"Misalnya, pada saat penjaringan kesehatan, dokter kecil diberikan tugas dalam mengatur urutan, mengukur berat dan tinggi badan, pengukuran ketajaman penglihatan dan sebagainya," ungkap Endang. (sigitsuhardi@yahoo.com)