MUST READS :

Ini Alasan Dahlan Iskan Ganti Bos Telkom

Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan pergantian direksi itu dilakukan supaya memperbaiki kinerja perusahaan telekomunikasi plat merah itu lebih baik lagi

  Regional :
   

Welcome to  Business Review online. The Indonesian Lighthouse of Business & State Enterprises.

EVENTS!

EVENT Sekarang:
Indonesia Human Capital Study
28 Juni 2012

EVENT Sebelumnya:
 

Kinerja index Saham IHSG


.: SAHAM

Total Emisi Obligasi Capai Rp21,9 Triliun
13 May 2012

Inilah Daftar Top Foreign Buy kemarin
12 May 2012


.: PREDIKSI PASAR

Harga minyak jatuh khawatir China dan Yunani
12 May 2012

JP Morgan Rugi, Rupiah Kena Getahnya
12 May 2012

 

Advertisment

Media Group
 

 

KEBIJAKAN PEMDA
Perda Harus Dukung Tumbuhnya Wirausaha Lokal
Posted : 06 Dec 2010 | By : | Komentar : 0

(BusinessReview Online)- Indonesia masih sangat kekuarangan wirausaha yang handal. Untuk menciptakan wirausaha sangatlah sulit. Padahal dengan makin banyaknya wirausaha, akan menjadikan Indonesai negara yang memiliki daya saing yang kuatt.

Masih lemahnya jiwa kewirausahaan di tengah masyarakat dewasa ini, umumnya di kalangan generasi muda, ikut pula memberi dimensi krisis bangsa yang berkepanjangan. Mereka merasa terpandang jika menjadi pegawai negeri dibandingkan menjadi wirausaha

Dalam beberapa tahun terakhir krisis global yang menghantui dunia, mengikis tatanan ekonomi dan usaha. Tak terkecuali di Indonesia. Namun begitu sepakterjang pada wirausaha yang kreatif dan inovatif tetap bertahan karena mereka menjadikan produk yang komparatif, tak tergerus arus krisis global

Dengan munculnya wirausaha (entrepreneur) belakangan ini di berbagai daerah akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang bersangkutan. Apalagi sejak era otonomi daerah (otda) para entrepreneur  di daerah menjadi lebih dekat dengan para pengambil keputusan, dalam hal ini Pemerintah daerah (Pemda) yang telah menggenggam hak otonomi.

Para pengusaha menjadi lebih mudah berurusan dengan para pejabat daerah membaca dan memahami kebijakan-kebijakan pemerintahan lokal yang dikeluarkan oleh para bupati, walikota, gubernur. Persoalanya antara kebijakan program pemda dalam tahapan implementasi dilapangan tak sejalan. Banyak hambatan dihadapkan entreprenuer, ketika berurusan dengan pemda,.

Kondisi riil dilapangan mereka dipersulit oleh permodalan, izin usaha, pungutan liar (pungli), akses pasar. Mestinya pemerintah mengakomodasi dengan berbagai fasilitas kemudahan bagi mereka. Inilah yang dirasakan dan menjadi keprihatian bagi Edy Putra Irawady, Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri & Perdagangan.

Diakuinya memang masih banyak diberbagai daerah yang membuat kebijakan kurang mendukung lahirnya wirausaha di daerah bersangkutan. ”Kita sudah melakukan sharing dan meminta pemerintah daerah untuk mengevaluasi ulang kebijakan yang tidak kondusif bagi perkembangan wira usaha di daerah. Kita menginginkan lahirnya entrepreneur yang inovatif, tangguh dan mandiri,” ungkap Eddy, kepada Business review, akhir pekan lalu.

Menurutnya Perda harus menunjukan sikap dukungan dengan pada wirausaha guna membangkitkan ekonomi dam ningkatkan daya saing usaha serta pembangunan di daerah.  Sebenarnya selama tidak mempersulit  akses wirausaha/ pengusaha  dan mempermudah terhadap kelancaran usaha meruapakan bentuk dukungan dari pemerintah.

Eddy menjelaskan untuk menciptakan wirausaha di daerah harus terus melatih diri guna memahami seluruh mata rantai, liku-liku dan prinsip-prinsip kewirausahaan itu secara mendalam. Mereka bukan semata hanya bisa membuat produk, namun harus bisa memasarkannya.

Mereka itu ibarat inkubator dalam labolatorium yang diciptakan, guna menjawab kebutuhan dan tantangan dalam pembangunan ekonomi daerah. “Dengan menjadi wirausaha yang inovatif, kreatif dan mandiri, mereka dapat menciptakan lapangan kerja. Bila usaha yang dikelola dengan profesional dan ulet, maka  semakin berkembang. Tentu saja akan memberi lapangan kerja bagi orang lain,” paparnya.

Perkuat SDM Wirausaha

Guna mempercepat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah, maka salah satu strategi atau pendekatan yang harus dilakukan adalah memperbanyak sumber daya manusia (SDM) wirausaha. Sebab, dengan dimilikinya SDM di bidang kewirausahaan, dengan sendirinya mereka ini akan mampu menciptakan peluang usaha dengan memanfaatkan potensi-potensi yang ada di daerah.

Daerah  yang SDM-nya masih berorientasi ingin menjadi PNS, maka kondisi yang terjadi adalah daerah akan lebih banyak mengeluarkan pendapatan, daripada menghasilkan pendapatan. Untuk merubah pola pikir atau budaya seperti ini,  Pemda harus berani membuat terobosan atau kebijakan, diantaranya membuat wadah untuk pengembangan wirausaha  memiliki sistem dan tersedia infrastruktur untuk mendukung pengembangan wirausaha

Salah satu indikator kemajuan di daerah makin banyak  entrepreneur , yang akan memacu  adanya perputaran uang. Artinya dinamika pertumbuhan ekonomi di daerah berkembang dan maju.

Edy menjelaskan Pemda harus memiliki tatanan program kerja yang jelas, terutama bagi terciptanya kantong-kantong lapangan kerja dengan menciptakan entrepreneur-entrepreneur. Mereka ini  yang diharapkan dapat menjawab tantangan ekonomi di era globalisasi ini.

Menurutnya  aparatur birokrasi harus konsisten, disiplin, jelas, dan tegas dalam melaksanakan kebijakan sekaligus menguraikan rencana-rencana nasional tadi dengan sense pro wirausaha yang berorientasi pada kemakmuran nasional dan langkah yang fleksibel terhadap dinamika bisnis.

Entrepreneur fashion

Semakin maraknya muncul wirausaha muda dibidang fashion. Indonesia, lanjut Edy akan menjadi poros atau kiblat fashion muslim dunia.k Karena Indonesia kaya akan bahan baku serta, memiliki SDM kreatif terutama dibidang seni rancang busana mulai dari perancang profesional hingga pengrjin amatiran.

Menurut Edy di pasar global produk indonesia kurang inovatif , karena itu dibutuhkan wirausaha yang memiliki daya kreatif tinggi, skill teknologi dan kemandirian. ”Justeru yang saya lihat sekarang ini  potensi itu ada di produk fashion. Khususnya fashion religi. Karena memiliki market yang luas dan segmen yang new fashion,” paparnya.

Eka Shanty, Marketing Communication Direktor Iindonesia Islamic Fashion Consortium, mengatakan trend fashion dewasa ini sudah tidak bia dibedakan lagi antara feshion global dan fashion muslim. Kini kekuatannya berimbang.

Menurutnya di beberapa negara di kawasan Asia respek terhadap fashion muslim produk dari rancangan Indonesia.  Mereka memberi apresiasi yang luar biasa dan tertarik terhadap inovasi dan pernik-pernik dari daerah yang ada di tanah air.

”Ini sebenarnya potensi dan peluang besar yang belum tergarap secara serius. Yang kita butuhkan sekarang adalah semangat nasionalime perancang Indonesia,” paparnya.

Eka menambahkan kekayaan ragam kultur dari berbagai suku di pelosok nusantara, Indonesia berpotensi menjadi pemasok terbesar untuk pasar mode busana muslim. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membentuk citra 'the other value of Indonesia.

Menurutnya, selain terkenal dengan kekayaan alamnya, Indonesia juga memiliki keunikan wisata belanja yang mendukung gaya hidup muslim, sehingga nantinya mampu menarik minat wisatawan asing.

Eka menilai, pangsa pasar busana muslim saat ini semakin berkembang. Selain pasar dalam negeri, sudah merambah pula ke negara-negara tetangga seperti Brunei Darussalam dan Malaysia. Sebab, menurutnya, busana muslim Indonesia lebih fashionable dibandingkan negara-negara tersebut.

"Yang diminati terutama busana dengan bahan-bahan lokal seperti batik dan brokat. Karena materialnya berbeda dari yang lain,'' jelasnya.

Menjadi Kiblat  Muslim Dunia

Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia mempunyai nilai ekonomis yang tinggi bagi perkembangan busana muslim.

Target untuk menjadi pusat fashion muslim dunia ditetapkan tidak hanya oleh pengusaha fashion tetapi juga oleh pemerintah. Tahun 2020 ditetapkan sebagai target pencapaian rencana besar tersebut.

Pemerintah Indonesia dalam hal ini diwakili oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sangat mendukung rencana dan target IIFC tersebut.

Deputi Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan, Edy P Irawady mengatakan, masyarakat muslim Indonesia saat ini juga sudah melek fashion, dan target menjadi kiblat fashion muslim dunia bukanlah hal yang berlebihan dan itu harus segera diupayakan.
 
Fashion Muslim di Indonesia memiliki ciri khas yang tidak bisa ditiru oleh negara manapun. Kolaborasi efektif antara pemerintah dan swasta dalam upaya mengoptimalkan potensi kekayaan budaya dan perancang busana akan menghasilkan produk inovatif dan produktif.

Batik, tenun, rajut dan perpaduan motif serta warna khas dari daerah-daerah di seluruh Indonesia merupakan kekayaan budaya yang sangat potensial. "Adalah hal yang good to be ignore, jika kesemua kekhasan budaya hanya kita anggurin," ungkap Edy

Pencanangan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia telah dikemukakan pada 13 Agustus lalu di Plaza Indonesia, Jakarta. Sebelumnya, penampilan fashion show busana muslim Indonesia pada World Expo di Shanghai, China juga mendapat sambutan meriah.

Target 10 tahun ke depan bukan hanya milik industri fashion, tetapi juga target bersama pemerintah dan masyarakat Indonesia. Karena hal tersebut akan turut meningkatkan potensi kunjungan wisata belanja dan devisa negara. (Sigit)

Jumlah Komentar masuk : 0
Bookmark and Share
Rubrik Lainnya
Lihat Komentar
Tambah Komentar

Anda belum mendaftar?
klik disini untuk daftar
dan mengisi form registrasi


 

Kalender Event

Dowload Movie

.

Advertisement

 

 

Free PageRank Checker

Disclaimer >>>> Data dan/atau informasi yang tersedia hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun kegiatan bisnis lainnya. kami tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan di website www.businessreview.co.id ini


www.businessreview.co.id
the indonesia lighthouse of business & state enterprises

PT. Kreasi Multi Media

Jl. Ciputat Raya No. 100 C. Kebayoran Lama 12240
Telp. (021) 729.1766. Fax. (021) 723.8541