KEBIJAKAN PEMDA
Bupati Merauke : Petani lokal mitra strategis program MIFE Posted : 18 Feb 2010| By : Sigit| Komentar : 0
(Businessreview) - Kasimero, (29) kulitnya terbakar matahari di tengah lahan garapanya seluas 0,5 hektar. Petani warga Kampung Tambat, Distrik Tanah Miring, Merauke ini mengaku kesulitan mendapat pekerjaan. Diapun menjatuhkan pilihannya jadi petani denagn harapan memberi hasil yang maksimal dan meningkatkan kesejahteraan.
Bukan hanya Kasimero, petani lainnya Yono Untailawal (34) warga Kampung Sirapu, Distrik Semangga, Merauke, juga mengakui hal yang sama. Mereka gambaran petani lokal yang butuh dukungan dari program kemitraan yang melibatkan masyarakat setempat.
Petani lokal menjadi pemikiran Bupati Merauke Johanes Gluba Gebze, untuk membangun kawasan di Merauke sebagai budidaya pangan dalam program MIFE (Merauke Integrated Food and Energy Estate). Petani lokal bagian dari mitra strategis para pengembang yang ingin masuk ke kawasan food estate, dengan demikian, program yang dikembangkan bisa menjadi stimulus bagi usaha-usaha pertanian lokal yang berbasiskan koperasi.
Sebab, tanpa itu, ketahanan pangan dapat dikuasai oleh konglomerasi, yang bisa mengancam ek6nomi kerakyatan. Apalagi, selain Merauke yang menjadi sentra food estate, masih banyak lahan belum termanfaatkan. Dimana lahan potensial tersebut untuk pengembangan kawasan pangan di Merauke seluas 1,28 juta hektar. Pemanfaatan lahan itu adalah untuk tanaman pangan 682.833 hektar, komoditas perkebunan 400.000 hektar, serta peternakan dan perikanan masing-masing 100.000 hektar.
Dikatakan pengembangan kawasan pangan tersebut dibagi dalam tiga zona. Tiap-tiap zona terdiri dari delapan kluster, dengan tiap kluster terdiri atas 32 subkluster dan setiap subkluster seluas 5.000 hektar. Prioritas jangka pendek adalah kluster sentra produksi pertanian I di Distrik Kurik untuk tanaman padi sawah, padi gogo, dan kedelai. “Saat ini pemerintah sedang menyiapkan lahan untuk pertanian beras dan tebu yang nantinya akan diorientasikan untuk ekspor dan swasembada pangan,” ujar Johanes Gluba Gebze
Lebih kurang 8.000 sampai 10.000 hektare lahan telah disiapkan untuk pertanian beras dan lahan seluas minimal 30.000 hektare juga telah disiapkan untuk pertanian gula. Merauke diperkirakan bisa meraup pendapatan kotor dari budidaya padi hingga Rp 48 triliun. Alangkah sayang jika potensi itu belum dimanfaatkan.
Pendapatan Kotor Rp 48 Triliun Kepala Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Merauke Omah Laduani Ladamay menyatakan, potensi lahan yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian. Jika dimanfaatkan untuk budidaya padi dengan produktivitas 4 ton gabah kering giling per hektar dan setahun dua kali tanam, pendapatan kotor Merauke minimal Rp 48 triliun per tahun. ”Namun, karena 1,28 juta hektar lahan pertanian di Merauke belum termanfaatkan, potensi itu hilang.” katanya.
Program ini adalah bagian dari program kerja 10 hari Kabinet Indonesia Bersatu II. Namun, pencanangan kawasan pangan itu diubah menjadi pencanangan Merauke sebagai Kawasan Pengembangan Usaha Budidaya Tanaman Terintegrasi dan Berskala Luas di Wilayah Indonesia Bagian Timur.
Kabarnya, untuk mendukung program Merauke Food Estate ini akan ada 36 investor yang menanamkan modalnya di Merauke. Sekitar 28 di antaranya adalah investor asal dalam negeri dan sisanya adalah investor asing.
Rencananya, program Merauke Food Estate akan diresmikan pemerintah langsung di Merauke, Papua, pada 27 Februari 2010 nanti. Di Merauke ada sekitar 1,63 juta ha yang potensi untuk pengembangan food estate. Dari luasan itu, ada sekitar 585.000 ha lahan areal penggunaan lain (APL) yang sudah mendapat persetujuan Kementerian Kehutanan.
Beberapa distrik di Merauke merupakan kawasan sentra produksi. Untuk tanaman padi berada di Merauke, Semangga, Kurik, Tanah Miring, Okaba dan Kimaam. Komoditi kedele berada di Jagebob, Malind, Muting, Elikobel, Okaba dan Kimaam. Sedangkan jagung di distrik Semangga, Jagebob, Muting, Elokobel, Okaba, dan Kimaam. Dukungan dari BUMN Guna mendukung pengembangan Merauke sebagai kawasan pangan, P Sang Hyang Seri (Persero) mulai Mei 2010 memproduksi benih padi di Merauke. Benih yang diproduksi dipasarkan secara komersial pada November 2010. Dengan demikian, Merauke tak lagi bergantung pada pasokan dari Sulawesi Selatan dan harga benih jadi lebih murah.
Menurut Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (SHS) Eddy Budiono, di Merauke, Papua, produksi benih itu dilakukan bekerja sama dengan petani lokal. Varietas benih yang diprioritaskan adalah Ciherang dan IR-64. SHS merupakan badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak dalam produksi benih padi. ”Petani memproduksi benih sesuai arahan teknis kami, lalu benih dijual kepada SHS,” kata Eddy.
Menteri Pertanian Suswono berpendapat, pengembangan kawasan pangan di Merauke dalam bentuk kemitraan antara pengusaha dan petani dilakukan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani. ”Kami tentu akan melibatkan petani sebagai mitra pengusaha supaya memenuhi aspek keadilan dan pemerataan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Produksi benih, akan dilakukan di Distrik Kurik, dekat dengan pengembangan sentra tanaman padi di wilayah Merauke. Pada tahap awal, SHS memanfaatkan 100 hektar dari 500 hektar lahan produksi yang siap dikerjasamakan. Tahap selanjutnya dikembangkan sesuai dengan permintaan. ”Nilai investasi tidak besar karena tiap hektar hanya memerlukan Rp 5 juta-Rp 6 juta. Produktivitas benih ditargetkan 4 ton per hektar,” tutur Eddy.
Hal senada juga dikatakan Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan Agus Pakpahan, peningkatan kesejahteraan petani Merauke akan tercipta melalui pengembangan organisasi berbentuk badan usaha yang bisa dijalankan efisien dan efektif. Oleh karena itu, badan usaha milik petani di Merauke sangat tepat.
BUMN PT Padi Energi Nusantara, akan menjalin kemitraan dengan industri pupuk guna memproduksi pupuk untuk memenuhi kebutuhan pupuk Merauke. Adapun PT Perkebunan Nusantara IX, X, XI, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia akan mengembangkan produksi gula di Merauke.
Menyusul kemudian komitmen empat perusahaan nasional, yakni Medco, Wilmar, Bangun Cipta, dan Mekasindo telah mengajukan diri untuk mengembangkan pertanian tanaman pangan skala luas di sejumlah lokasi dalam program Food Estate. Program ini dicanangkan pemerintah untuk memperkuat produksi pangan strategis dan bisa mengekspor.
Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air Kementerian Pertanian, Hilman Manan, mengatakan, pemerintah menyiapkan lahan telantar (idle) untuk pertanian di beberapa daerah. Di Merauke saja disiapkan 1,6 juta hektare (ha), yang berasal dari areal penggunaan lain (APL) seluas 585.000 ha, hutan konversi produksi (HKP), dan lahan transmigrasi. (Sigit/Kormen)
Jumlah Komentar masuk :0 Rubrik LainnyaLihat Komentar Tambah Komentar
Anda belum mendaftar? klik disini untuk daftar
dan mengisi form registrasi
www.businessreview.co.id the indonesia
lighthouse of business & state enterprises
PT. Kreasi Multi Media
Jl. Ciputat Raya No.
100 C. Kebayoran Lama 12240
Telp. (021) 729.1766. Fax. (021) 723.8541