(Businessreview) - Indonesia kaya akan sumber daya alam, sungguh disayangkan jika potensi di setiap daerah belum dioptimalkan, sehingga tak bisa mendongkrak pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Untuk itu diperlukan berbagai terobosan memajukan daerah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Hal ini yang memotivasi pemerintah daerah kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) berbenah memaksimalkan potensi sumber-sumber alam yang dimiliki, dipergunakan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku dan diterima oleh masyarakat.
Inilah yang menjadi harapan bagi Bupati Manggarai Barat Drs.W.Fidelis Pranda. kepada Business Review, memaparkan ada beberapa sektor yang memiliki peluang besar bagi pemerintah Manggarai Barat seperti pertanian, kepariwisataan, perikanan, kelautan dan peternakan, pertambangan dan kehutanan.
Pemerintah selalu berharap agar seluruh masyarakat Kabupaten Manggarai Barat bahu membahu. Dalam bahasa adat Manggarai Barat "Nai Ca Anggit Tuka Ca Leleng–Padir Wa’i Rentu Sa’i". Menyisingkan lengan baju untuk mengisi pembangunan di Kabupaten Manggarai Barat. Sehingga pada saatnya nanti Kabupaten Manggarai Barat menjadi sejajar atau lebih maju dari daerah lainnya di Indonesia.
Bupati Pranda mengakui kondisi riil dihadapkan kendala besar menyangkut kualitas sumber daya manusia. "Jika SDM bisa dibenahi tentunya akan mempercepat melaksanakan rencana besar mewujudkan Mangarai Barat dalam pembangunan," ujarnya.
Sektor yang dianggap masih lemah diantaranya sektor sarana dan prasarana serta anggaran. Keterbatasan tersebut, sebenarnya tidak bisa dijadikan dasar alasan untuk maju, namun sebaliknya menjadi motivasi untuk memanfaatkan potensi yang ada dengan menggerakkan sumber daya yang dimiliki untuk mengejar ketertinggalan dalam memajukan daerah ini.
Kemudian pemekaran kecamatan dan desa dalam rangka optimalisasi pelayanan kepada masyarakat, meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana kesehatan. Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, meningkatkan pembangunan infrastrastruktur seperti jalan, jembatan,irigasi dan listri masuk desa dengan tenaga air. "Kerangka pembangunan sektor ini jadi fokus bagi kita," ujarnya.
Bupati Pranda memaparkan rencana lainnya, meningkatan kinerja sektor pariwisata, perikanan,pertanian dan pertambangan. Sektor ini dinilai sebagai sektor unggulan jika dikelola secara professional dapat meningkatkan peran masyarakat. Meningkatkan kualitas sumberdaya aparatur khususnya dibidang-bidang pendidikan dan kesehatan dengan mengikat kerjasama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Memberi perhatian terhadap memberdayakan lembaga-lembaga adat dalam menyelesaiakan berbagai permasalahan yang dihadapi, membina kerukunan kehidupan iman umat beragama.
Untuk mempercepat pembangunan di Manggarai Barat, Bupati Pranda memberi peluang besar iklim investasi, dengan memfasilitasi investor keringanan pajak, supaya mereka menanamkan modal/berinvestasi di Kabupaten Manggarai Barat. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur hanya Kota Kupang dan Kabupaten Manggarai Barat tercatat memiliki nilai investasi terbesar dari kabupaten lainnya. Nilai investasi di dua daerah ini mendekati 50% dari total nilai investasi asing dan investasi dalam negeri sebesar Rp1,7 triliun pada 2009.
Dikatakan investor enggan datang ke Manggarai Barat, tanpa adanya akses infrastruktur seperti sarana transportasi dan komunikasi yang mamadai. Sarana dan prasana ini memang sedang giat dilakukan untuk menumbuhkan kepercayaan terhadap investor baik lokal maupun asing.

Kendala Infrastruktur
Kondisi infratruktur yang buruk akan selalu jadi kendala bagi investor untuk menanamkan modal di Manggarai Barat. Jika akses jalan raya, jembatan, pelabuhan, bandara dan sarana telekomunikasi tidak terbenahi, bisa dibayangkan keengganan investor masuk ke Manggarai Barat. Hal ini sangat disadari Bupati Pranda yang berusaha mempercepat pembangunan infrastruktur, transportasi dan komunikasi. Karena pembangunan tersebut merupakan pintu gerbang pemberdayaan masyarakat terpencil dan terasing.
Bupati Pranda memahami dirinya telah menjadi motor penggerak roda pemerintahan dan pembangunan. Pembangunan daerah sejatinya ditakar oleh kehidupan warga desa terpencil. Teraksesnya jalan raya ke desa-desa terpencil merupakan prioritas utama pembangunan.Tujuan pembangunan harus terorientasi kepada orang miskin sebagai sasaran langsung pembangunan.
Data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menyebutkan, panjang jalan kabupaten di wilayah Manggarai Barat sepanjang 691,8 kilometer beraspal dan 328,23 kilometer jalan tanah. Banyaknya ruas jalan yang rusak karena jalan dibangun di atas permukaan tanah yang labil. Selain itu, banyaknya truk dengan beban berlebih memperparah kerusakan. Daya dukung jalan hanya 14 ton, tetapi muatan truk yang lewat bisa mencapai 20 ton.
“Kita harus mempercepat pembangunan transportasi dan sarana komunikasi. Untuk menumbuhkan roda ekonomi rakyat dan mempermudah bagi invetsor di Manggarai Barat,” paparnya.
Dengan memfasilitasi sarana tersebut, maka akan mempermudah akses -akses potensial yang bisa dioptimalkan, seperti sektor pariwisata, mengingat wisata di Manggarai Barat merupakan wisata pulau, flora dan fauna.

Wisata Pulau
Manggarai Barat memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah. Salah satu sumber daya alam yang belum digarap maksimal adalah obyek-obyek wisata. Misalnya Taman Nasional Komodo (TNK) dan pulau-pulau di perairan Labuan Bajo dan sekitarnya.
Mayoritas dari objek wisata itu mengandalkan panorama alam yang eksotik, bentang laut dengan hamparan pasir putih yang bersih, keindahan alam bawah laut dengan spesies terumbu karang dan ikan hiasnya, goa alam, air terjun hingga danau berkadar belereng.
Barisan panjang aset wisata Manggarai Barat itu makin disempurnakan dengan keberadaan fosil-fosil kayu yang membatu yang bisa ditemukan di sejumlah desa di Kecamatan Warloka serta bangunan benteng-benteng perang yang bisa dijumpai di sejumlah desa di Kecamatan Lembor.
Bupati Pranda mengatakan dari deretan panjang potensi wisata itu, hanya segelintir saja yang sudah terekspos, seperti Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Juga Pantai Merah, Pantai Lasa dan Pulau Bidadari. Sementara keberadaan objek-objek wisata lainnya nyaris tak terdengar . Kondisi ini karena keterbatasan akses infrastruktur dan telekomunikasi. Hingga pada akhirnya Pemkab Manggarai Barat dan masyarakat belum mampu menangguk berkah pariwisata itu secara optimal.
Dia berharap kedepannya segala kendala yang menghambat pembangunan di Manggarai Barat segera dapat teratasi. "Kita semua ingin Manggarai Barat bisa melangkah lebih maju. Mari sama-sama kita bahu membahu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat membangun Manggarai Barat," ungkapnya. (Sigit/Kormen)