06 Jan 2010
(Businessreview) - Nilai tukar rupiah menguat ke level tertinggi sejak Oktober 2009 terpengaruh perbaikan di pasar saham, menyusul prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang menarik modal masuk dari luar negeri.
Kurs mata uang Asia yang berkinerja terbaik sepanjang 2009 itu meningkat sebagai dampak aksi beli saham oleh investor asing yang lebih tinggi dari nilai surat berharga yang dijual di pasar domestik, kemarin, sehingga menambah nilai bersih penjualan sekitar US$1,4 miliar yang dibukukan tahun lalu.
Aliran modal masuk ke bursa dalam negeri itu terutama dipengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan sekitar 5,5% pada tahun ini lebih tinggi dari laju PDB tahun lalu sekitar 4,3%. Rupiah kemarin ditransaksikan di posisi Rp9.320 per dolar AS pada pukul 15.39 WIB naik tipis dari posisi penutupan perdagangan Selasa sebesar Rp9.346. Pada pukul 14.30 WIB, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp9.290.
Penguatan rupiah tersebut sejalan dengan proyeksi Divisi Treasury PT Bank OCBC NISP Tbk bahwa nilai tukar mata uang lokal itu menguat ke area Rp9.250-Rp9.350 per dolar AS merespons rally di pasar saham. Pasar juga bereaksi positif terhadap peningkatan indeks manufaktur China, sehingga meningkatkan minat berinvestasi di aset-aset negara berkembang.
"Indonesia secara relatif memiliki imbal hasil yang tinggi, pertumbuhan ekonomi yang dinamis dan kondisi politik yang relatif stabil, sehingga menarik bagi investor," kata Peter Redward, Head of Emerging Markets di Barclays Plc di Singapura seperti dikutip Bloomberg, kemarin.
Dia memperkirakan rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp9.150 per dolar AS sampai dengan akhir bulan ini. Adapun dari hasil survei sejumlah analis, nilai tukar rupiah diproyeksikan terapresiasi 3,3% menjadi Rp9.000 per dolar AS sepanjang tahun ini. Kurs rupiah juga dipengaruhi laporan inflasi dari Badan Pusat Statistik yang lebih rendah dari perkiraan analis.
Pada Selasa, BPS melaporkan inflasi Desember naik 2,78% dari posisi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun nilai tengah inflasi dari hasil survei terhadap sejumlah ekonom menghasilkan angka 2,92%. Perkembangan inflasi tersebut diprediksi membuat Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 6,5%. Meski demikian, hasil survei yang lain memprediksi bank sentral meningkatkan BI Rate di kisaran 7,75% pada akhir tahun ini.
Dolar AS terkulai
Selain perkembangan internal yang cenderung positif, apresiasi nilai tukar rupiah juga dipengaruhi pelemahan dolar AS dibandingkan dengan enam mata uang negara mitra dagang utama Amerika Serikat. Dolar AS yang sering disebut sebagai greenback itu terjungkal ke level terendah dalam hampir 3 pekan terhadap euro. Kurs dolar AS terkoreksi ke level US$1,445 per euro dari posisi sehari sebelumnya yang masih US$1,441.
Pelemahan dolar ini berbanding terbalik dengan tren perdagangan dolar AS selama satu dekade terakhir. Menurut catatan analis Forex PT Askap Futures Wahyu Tribowo Laksono, setiap awal tahun dalam 10 tahun terakhir, nilai tukar dolar AS menguat terhadap euro dan franc Swiss hingga 70%.
Dia melanjutkan penguatan dolar AS menjadi cukup tinggi pada awal 2009 setelah krisis kredit global menjadikan dolar AS sebagai instrumen investasi paling aman (safe haven). Dia menjelaskan kecenderungan apresiasi musiman tersebut dipengaruhi pemosisian kembali pada awal tahun.
"Biasanya banyak investor asing yang merepatriasi dana mereka pada akhir tahun dalam rangka window dressing neraca keuangan mereka atau persiapan distribusi. Pada awal tahun, mereka mengulang kembali posisi mereka atau mencari posisi baru yang sepertinya lebih banyak masuk ke investasi pasar ekuitas dan surat utang AS," katanya. (Bisnis Indonesia)


Prediksi Pasar Sebelumnya :



