06 Jan 2010
(Businessreview) - Realisasi pinjaman valuta asing perbankan dari luar negeri pada 2009 US$1,71 miliar atau turun 19,06% dari tahun sebelumnya US$2,11 miliar, menyusul ekspansi kredit dalam denominasi serupa yang juga melemah. "Memang pasar obligasi internasional sudah membaik dengan kupon yang relatif lebih rendah, karena dana valas di pasar bisa dikatakan sangat likuid. Jadi kami membuka kemungkinan untuk issue subdebt valas itu," kata dia. (Bisnis Indonesia)
Penggunaan pinjaman valas itu hanya menyerap sekitar 61% dari rencana yang disetujui Bank Indonesia sebesar US2,8 miliar. Lemahnya penggunaan utang valas perbankan itu tecermin juga dari realisasi kredit valas yang melorot 27,9% menjadi Rp198,45 triliun per Oktober 2009.
Bank-bank yang telah memanfaatkan pinjaman valas luar negeri pada 2009 di antaranya PT Bank Negara Indonesia senilai US$150 juta dari Standard Chartered Bank dengan tenor 5 tahun. Bank lainnya adalah PT Bank Permata Tbk yang menggunakan utang luar negeri valas senilai US$100 juta melalui penerbitan obligasi subordinasi.
Beberapa bank yang menunda penggunaan utang valas pada 2009, mulai menjadwalkan kembali pada tahun ini seperti PT Bank Mandiri Tbk yang menyiapkan penerbitan obligasi subordinasi sekitar US$200 juta-US$300 juta dalam rencana bisnis 2010.
Direktur Direktorat Internasional Bank Indonesia Dian Ediana Rae menjelaskan menurunnya penggunaan dana valas perbankan pada 2009 terjadi karena melemahnya perdagangan internasional yang menentukan pemanfaatan likuiditas valas tersebut.
"Penurunan pinjaman valas itu terjadi karena perdagangan internasional selama 2009 masih rendah sehingga kebutuhan financing juga tidak besar, termasuk bank-bank di Indonesia juga tidak dapat menggunakan fasilitas pinjaman luar negeri itu," jelasnya kemarin.
Dian memaparkan penurunan penggunaan dana valas perbankan terjadi sejak awal tahun lalu yang berlangsung hingga kuartal ketiga, dan baru terjadi realisasi pemanfaatan pinjaman yang cukup besar pada akhir 2009. Untuk itu, lanjutnya, tren penggunaan pinjaman valas perbankan pada tahun ini justru akan meningkat lebih besar, sejalan dengan perkiraan pertumbuhan perdagangan dunia yang semakin membaik akan disertai dengan peningkatan permintaan dana valas.
"Diperkirakan pasar dana valas tahun ini akan kembali ke kondisi normal. Tapi untuk tahun ini belum diketahui karena masih menunggu rencana bisnis bank yang akan masuk akhir bulan ini baik untuk rencana pinjaman bilateral maupun penerbitan obligasi semuanya harus disetujui dulu BI," kata dia.
Kebutuhan likuiditas
Dian menjelaskan saat ini bank yang telah mengajukan utang luar negeri masih menghitung kebutuhan likuiditas untuk mendukung ekspansinya sambil mempertimbangkan risikonya.
Direktur Treasury dan Internasional Bank Mandiri Thomas Arifin menjelaskan pihaknya membuka kembali rencana penerbitan obligasi valas mengingat kondisi perdagangan internasional pada saat ini yang semakin baik. Menurut dia, penerbitan obligasi dolar hanya untuk memperkuat struktur neraca yang akan digunakan apabila dibutuhkan karena rasio kecukupan modal perseroan masih cukup tinggi di kisaran 15%.


Prediksi Pasar Sebelumnya :



