27 Apr 2010
(Businessreview) - Penguatan rupiah terhadap dolar AS rupanya berimbas pada komoditi kedelai di pasar domestik. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, harga kedelai terus menunjukkan tren penurunan.
Data Bappebti itu menunjuk pada salah satu sentra produksi kedelai nasional, yaitu Surabaya, Jawa Timur. Harga kedelai di Surabaya bahkan menyentuh level terendahnya sepanjang 2010 pada hari Senin (26/4) kemarin, yaitu Rp 4.325 per kilogram (kg). Harga tersebut merosot 27% dari awal tahun yang sempat mencapai Rp 6.000 per kg.
Untuk informasi saja, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah terhadap si hijau saat ini di level Rp 9.001. Padahal di awal tahun kurs tengah BI berada di kisaran Rp Rp 9.300 per dolar AS. Dengan penguatan ini, para importir tak ragu mengusung kedelai dari pasar internasional karena harga beli kedelai impor semakin murah.
Selama ini, 70% kebutuhan kedelai nasional masih tergantung dengan suplai kedelai dari AS dan Brazil. Maklum, kebutuhan kedelai dalam negeri yang mencapai 2,2 juta ton per tahun hanya tertambal produksi kedelai domestik sekitar 970.000 ton per tahun. Lantaran kedelai impor masih mendominasi pasar di dalam negeri, mau tak mau harga kedelai domestik pun dikendalikan oleh kedelai impor.
Lihat saja pengakuan Timin, salah seorang petani kedelai dari Nganjuk, Jawa Timur. Ia bilang, saat ini harga kedelai impor di pasar nasional semakin murah, yaitu Rp 4.750 per kg; bandingkan dengan harga kedelai domestik yang harganya lebih rendah dari level itu, yaitu Rp 4.325 per kg. "Kalau harga terus di bawah Rp 5.000 per kg, itu sudah tidak menguntungkan lagi bagi petani," kata Timin, Senin (26/4).
Direktur Budidaya Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Kementerian Pertanian Muchlizar Murkan menghitung, pengendalian harga kedelai bisa dilakukan dengan diberlakukannya harga pembelian pemerintah (HPP) kedelai.
"Minimal Rp 5.500 per kg, tapi idealnya itu 1,5 kali harga besar berarti sekitar Rp 7.000 per kg, karena break even point (BEP)-nya Rp 5.000 per kg," jelasnya.
Jika penurunan harga terus berlanjut, sangat terbuka kemungkinan petani akan mengalihkan tanamannya ke komoditi lain. "Kemungkinan pada musim kemarau nanti, yaitu pada Juni-Juli akan terjadi peralihan tanaman dari kedelai ke jagung," kata Timin.
Alasan pemilihan menanam jagung sebagai pengganti kedelai itu sangatlah sederhana, yaitu karena harga jagung cenderung lebih stabil dibanding kedelai. Lagipula, menurut Timin, pengalihan tanaman komoditi ini jamak dilakukan petani kedelai jika harga kedelai terus merosot.
"Saat ini ada perluasan lahan kedelai. Tapi kalau kondisi (harga) seperti ini, pasti akan ada pengurangan luasan lagi," imbuh Timin.
Ketua Umum Dewan Kedeali Nasional Benny Kusbini bilang, pemerintah semestinya serius melindungi kepentingan petani sehingga petani tidak sungkan untuk menanam kedelai.
"Adanya kecenderungan harga kedelai yang turun, mestinya pemerintah tanggap untuk menerapkan bea masuk kedelai impor," tukasnya. Tujuannya, imbuh Benny, untuk menyeimbangkan harga kedelai di dalam negeri.
Rencana pengalihan jenis tanaman itu sesungguhnya tak aneh. Soalnya, seperti yang dikutip dari Bloomberg, langkah serupa juga bakal dilakukan oleh petani kedelai di provinsi Heilongjiang. China, tahun ini.
China National Grain and Oils Information Center menyatakan total aeral tanam kedelai di sentra produksi itu diperkirakan akan berkurang sekitar 7,9% atau setara dengan 5,6 juta mu menjadi 65 juta mu karena petani berpindah tanam ke komoditi lain. (1 mu = 0,067 ha).
Dana Asing Terus Menguatkan Rupiah
Nilai tukar rupiah terus menguat, meski dalam rentang terbatas. Merujuk kurs tengah Bank Indonesia (BI), kemarin, rupiah naik 0,17% menjadi Rp 9.001 per dollar AS. Ini posisi terkuat rupiah sejak 11 Juli 2007. Di pasar spot, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 8.991, sebelum ditutup Rp 9.008 per dollar AS.
Menguatnya otot rupiah banyak didorong oleh masuknya dana asing ke semua instrumen investasi. Di pasar saham, aliran dana asing terus mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dus, hingga saat ini, IHSG masih jadi indeks dengan kenaikan tertinggi di Asia. Kemarin, IHSG menjejak rekor tertinggi sepanjang sejarah di posisi 2.944,71, tumbuh 16,19% sejak awal 2010. Sepanjang tahun ini, investor asing mencatatkan beli bersih Rp 5,06 triliun.
Dana asing juga menyemarakkan pasar obligasi. Per Jumat lalu (23/4), kepemilikan asing di Surat Berharga Negara mencapai Rp 145,35 triliun atau setara 24,10% total SBN. Porsinya naik dari akhir bulan lalu, yang Rp 132,46 triliun atau setara 22,33% total SBN.
"Imbal hasil obligasi pemerintah di hampir semua tenor mencapai level terendah," ucap diler valas BRI Rachmat Wibisono. Harga instrumen ini naik karena membludaknya permintaan di pasar sekunder maupun ketika lelang. "Mungkin ada pengalihan dari SBI, karena pemerintah hendak memperkecil kepemilikan asing di SBI," imbuhnya.
Krisis politik di Thailand ikut mendorong pengalihan dana asing ke Indonesia. Tentu ada potensi dana asing tersebut keluar. "Tapi tak drastis, kecuali global memburuk," kata Rosady T.A. Montol, pengamat dari Bank BNI.
Dia memperkirakan, rupiah bisa tembus Rp 8.600 per dollar AS di akhir 2010. Adapun Wibisono memproyeksikan rupiah di kisaran Rp 9.000-Rp 9.100. "BI tak akan agresif mengintervensi rupiah, karena naik sejalan mata uang di Asia," ujar Ho Woei Chen, Ekonom UOB di Singapura, seperti dikutip Bloomberg, kemarin.


Prediksi Pasar Sebelumnya :
