BERITA BUMN
40 Tahun Krakatau Steel, Memajukan Industri Manufaktur Indonesia Posted : 29 Aug 2010| By : | Komentar : 0
(Businessreview)- Senyum sumringah nampak dari raut wajah Direktur Utama PT Krakatau Steel Fazwar Bujang.
Pasalnya perjalanan perusahaan industri baja milik kebanggaan bangsa ini menapak di usia ke 40 tahun. Usia yang terbilang tidak muda, tapi memasuki periode yang matang dalam mengolah industri baja, dengan berbagai kegiatan yang signifikan dalam rangka mencapai visi dan misi Krakatau Steel.
Hati Fazwar Bujang begitu berbunga dan lega, karena hingga tahun ini beberapa tahap pencapaian telah dilewati, untuk mewujudkan Krakatau Steel sebagai kekuatan industri baja dunia.
Begitu banyak tahapan keputusan besar yang dilakukan Krakatau Steel dalam upaya megimplentasikan sebagai produsen baja dunia, terkait yang diemban perseron untuk mewujudkan pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri dan kesejahteraan bangsa.
Ditandai dengan Memorandum Of Understanding (mou) perusahaan baja asal Korea Selatan Pohang Iron & Steel Corporation (POSCO). Setelah tertunda sebanyak 4 kali, untuk mencapai Joint Venture Agreement (JVA).
JVA tersebut akan menjadi dasar bagi pembentukan Joint Venture Company (JVC) integrated steel mill antara PT. Krakatau Steel dan POSCO yang akan menghasilkan kapasitas produksi sebesar 6 juta ton/tahun dalam produk berupa slab, plate dan hot rolled coil.
Mengingat besarnya investasi POSCO di Indonesia melalui pendirian JVC dengan PT. Krakatau Steel dan pentingnya industri baja bagi pembangunan perekonomian nasional, dapat disimpulkan bahwa pendirian JVC tersebut adalah sangat strategis.
Kekuatan Baja Dunia Pembangunan JVC akan dilakukan dalam 2 tahap, dimana tahap pertama direncanakan akan mulai beroperasi pada tanggal 1 Januari 2014. Status kepemilikan JVC sendiri akan dibagi secara proporsional antara PT. Krakatau Steel dan POSCO.
Fazwar Bujang menyatakan, kapasitas produksi pabrik baja terpadu itu adalah enam juta ton per tahun di bagi dalam dua tahap, masing-masing tiga juta ton. “Konstruksi tahap pe-rtama akan dimulai pada semester II-2010 dan ditargetkan selesai 31 Desember 2013,” katanya
Fazwar menambahkan konsentrasi produk yang dihasilkan pabrik tersebut antara lain baja jenis slab, hot rolled coil, dan plate untuk memenuhi permintaan domestik. Adapun lahan konstruksi perusahaan patungan itu terletak di sebelah pabrik baja KS di wilayah Cilegon.
Selain sebagai upaya meningkatkan kapasitas investasi, produksi baja, serta alih teknologi, investasi POSCO juga mempunyai efek ganda yang besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum dan khususnya untuk wilayah Cilegon dan sekitarnya.
Tahapan selanjutnya adalah program revitalisasi Krakatau Steel juga sudah berjalan dengan baik. Krakatau Steel menyiapkan dana sekira USD580 juta untuk membiayai program revitalisasi dan modernisasi. Sebesar USD220 juta digunakan untuk revitalisasi, dan USD360 juta untuk membangun dapur tinggi untuk mengolah bijih besi untuk dijadikan besi kasar (blast furnace). “Revitalisasi ini membuat posisi KS menjadi kompetitif,” papar Fazwar Bujang.
Revitalisasi, akan dilakukan dalam dua tahap, yakni tahap pertama pada April 2011 dan tahap kedua akan selesai pada 2012. Dari dana yang sebesar USD220 juta, menurut Fazwar, di antaranya akan dipergunakan untuk membuat plat baja (slab steel) nomor satu dan dua, revitalisasi mesin, sistem automation dan control.
Dengan adanya revitalisasi mesin, akan meningkatkan kapasitas produksi Krakatau Steel, dari dua juta ton menjadi 2,5 juta ton per tahun. Kebutuhan dana sudah didukung oleh perbankan dan pemerintah di Eropa seperti Jerman, Austria, dan Italia. Dana dari Eropa berdasarkan skema pembiayaan Export Credit Agency (ECA). Perbankan asal Jerman yang menawarkan kredit ekspor adalah KfW Ipex dan HVB (Hypo-Vereinsbank).
Produksi Ironmaking Fazwar Bujang menjelaskan, selain melakukan revitalisasi di hulu, pihaknya juga akan fokus di hilir. Revitalisasi di hilir, lanjutnya, dilakukan dengan membuat blasting baru. Sehingga, nanti hasil produknya adalah berupa bijih besi, bukan berbentuk besi spons.
Blasting itu sendiri adalah proses pembersihan permukaan material dengan menggunakan sistem penyemprotan udara bertekanan tinggi dari berbagai media seperti pasir, air, dan lainnya.
Dengan blasting, seluruh kontaminan yang terdapat pada baja akan dibersihkan serta pori-pori baja akan terbuka. “Kalau ini sukses, akan menurunkan penggunaan energi seperti listrik, mengingat saat ini sumber energi baik listrik dan gas sedang ada keterbatasan pasokan,” ujarnya.
Diakui Krakatau Steel memang terlambat melakukan revitalisasi sehingga dampaknya dirasakan pada saat ini. Padahal, perusahaan itu dihadapkan pada perubahan lingkungan bisnis, energi mahal dan langka, harga bahan baku menjadi lebih mahal, dan jenis produk yang diminta lebih shopisticated.
“Meskipun terlambat, Krakatau Steel berupaya berlari kencang mempertipis ketertinggalan, baik terhadap daya saing maupun teknologi,” kata Fazwar Bujang.
Krakatu Steel memproyeksikan produksi perdana dari pabrik ironmaking yang berlokasi di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan ( Kalsel) sudah bisa dilakukan pada Juni-Juli 2011. Hal ini seiring progress pembangunan yang saat ini mencapai 60 persen.
Pabrik Ironmaking dikelola oleh PT Meratus Jaya, yang sahamnya mayoritas dimiliki oleh KS (65 persen) dan sisanya adalah milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Pemancangan tiang pertama pabrik ini dilakukan pada awal April 2009 dan ditargetkan memiliki kapasitas produksi besi spons 315.000 ton per tahun. Nilai investasi dari pabrik ini adalah sekitar Rp707 miliar. "Progress pelaksanaan proyek ini sudah 60 persen. Diharapkan September 201i mulai beroperasi,” kata Fazwar Bujang
Pabrik tersebut dirancang agar mampu memanfaatkan potensi bijih besi dan batu bara dalam negeri sehingga diharapkan mengurangi ketergantungan impor bahan baku. Krakatau Steel memproyeksikan, pada produksi perdananya, pabrik tersebut mampu menghasilkan sekitar 230.000 ton besi spons per tahun.
Menurut Fazar Bujang pembangunan pabrik di Kalsel ini memproduksi besi spon sebagai bahan baku pembuat baja di Cilegon, khususnya pabrik hasil kerjasama dengan Posco Korea Selatan. "Tentunya, apabila pabrik di Kalsel dan Cilegon sudah berproduksi bakal mengurangi ketergantungan impor besi dan baja," ujarnya.
Pada saat ini, permintaan besi dan baja nasional diproyeksikan sekitar 9 juta ton per tahun, dimana 5 juta ton dipenuhi dari produksi dalam negeri dan sisanya 4 juta ton ditutupi dari impor. Fazwar Bujang menambahkan, daya saing KS diharapkan semakin meningkat seiring digunakannya teknologi tanur ledakan (blast furnace) di pabrik di Cilegon, sehingga biaya produksi lebih rendah dan harga produk diupayakan lebih kompetitif.
Masuk Pasar Bursa Langkah Krakatau Steel selanjutnya adalah melantai pasar modal yang kini tinggal menghitung bulan. Perseroan telah menyerahkan berkas dokumen rencana pelaksanaan pelepasan saham perdana (initial public offering/IPO) ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada 20 Agustus 2010.
Bukan itu saja perseroan juga akan menjajaki kemungkinan untuk memprivatisasi 3 anak usahanya melalui penawaran publik perdana(initial public offering/ IPO). Sementara itu, perseroan akan menggunakan dana IPO sebesar 19,26% untuk mendanai ekspansi bisnis. Krakatau Steel mengkaji berbagai opsi untuk melepas sisa saham sebesar 10,74%, sehingga nantinya saham yang di pasar mencapai 30%.
Fazwar Bujang menuturkan IPO anak usaha diharapkan bisa dilakukan pada 2011. Saat ini perseroan masih fokus untuk pelaksanaan penawaran publik. “Kami belum bisa menyebutkan nama-nama anak usaha yang akan diprivatisasi. Yang pasti, dari perusahaan di bawah Krakatau Steel, ada yang akan kami lepas ke pasar pada tahun depan,” ujarnya.
Tidak mudah bagi managemen Krakatau Steel mempertahankan kekuatan industri strategis baja nasional ditengah berbagai periode cobaan dari rencana penjualan pada asing dan krisis global yang kini dapat dilalui.
Semoga Krakatau Steel dapat mewujudkan visi dan misinya menjadi kekuatan industri baja dunia yang diperhitungkan. Karena tolak ukur negara yang maju adalah keberhasilan mengolah program strategi seperti industri baja. (sigitsuhardi@yahoo.com)
Jumlah Komentar masuk :0 Rubrik LainnyaLihat Komentar Tambah Komentar
Anda belum mendaftar? klik disini untuk daftar
dan mengisi form registrasi
www.businessreview.co.id the indonesia
lighthouse of business & state enterprises
PT. Kreasi Multi Media
Jl. Ciputat Raya No.
100 C. Kebayoran Lama 12240
Telp. (021) 729.1766. Fax. (021) 723.8541