17 Apr 2010
(Businessreview) - Perdagangan di hari akhir pekan, selalu dimanfaatkan investor untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking). Hal itu mengakibatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) gagal mengakhiri perdagangan akhir pekan di zona positif. Pada perdagangan Jumat (16/4), indeks bursa lokal malah terkoreksi cukup dalam sebesar 21,859 poin (0,75 persen) ke level 2.878,671.
''Seperti biasa ini akibat para pemegang saham merealisasikan keuntungan yang mereka raih selama sepekan kemarin. Saham-saham unggulan yang sebelumnya membukukan penguatan tajam dan telah mengalami jenuh beli melemah. Di tambah lagi dengan sentimen negatif dari pelemahan semua indeks bursa regional,'' kata pengamat pasar saham PT Anugerah Securindo Indah Arcadius Musri Djoko kemarin.
Saham-saham unggulan yang mengalami penurunan signifikan antara lain Astra International (ASII) turun Rp 550 menjadi Rp 42.900, PTBA turun Rp 200 menjadi RP 17.950, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 150 menjadi Rp 5.100, BRI (BBRI) turun Rp 50 menjadi Rp 8.150.
Musri Djoko menambahkan, penguatan tipis indeks wall street pada perdagangan malam sebelumnya juga tak mampu membantu. Sebab, pelemahan indeks regional lebih kuat mempengaruhi psikologis para pelaku pasar untuk melakukan aksi jual terutama pada saham yang harganya sudah relatif tinggi naik di atas 15 persen dibanding awal 2010.
Perdagangan saham kemarin berjalan cukup ramai, dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar mencapai 101.930 kali dengan volume 4.893 juta lembar saham senilai Rp 3,9 triliun. Sebanyak 65 saham naik, 120 saham turun, 63 saham stagnan. Pemodal asing melakukan pembelian saham Rp 861,13 miliar, sedangkan penjualan mencapai Rp 941,51 miliar.
Berdasarkan data kurs transaksi Bank Indonesia (BI), rupiah sore kemarin berakhir di posisi 9.018 per dolar AS. Pada perdagangan Kamis, (15/4), mata uang lokal tersebut berakhir di kisaran level 9.008-9.010/USD. ''Selain karena sentimen dari IHSG, USD juga tengah rebound terhadap mayoritas mata uang utama dunia,'' tutur Arcadius.
IHSG Sukses Tembus Level Psikologis 2.900
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya berhasil ditutup dengan menembus level psikologis 2.900. Level psikologis yang ditunggu-tunggu sejak pekan lalu itu ditopang oleh penguatan saham unggulan hampir di semua sektor.
Pengamat pasar saham dari finance korporindo Edwin Sinaga mengatakan, setelah investor melihat banyak sentimen mendukung dan minim sentimen negatif akhirnya mereka merealisasikannya dengan melakukan aksi beli saham unggulan. Pada perdagangan kemarin (15/4), IHSG ditutup naik 15,515 poin (0,53 persen) ke level 2.900,530.
Pada awal perdagangan, IHSG sempat terserang aksi profit taking. Namun munculnya kabar harga minyak mentah dunia yang menguat dan kenaikan bursa regional membuat suasana positif di pasar saham. Saham-saham paling aktif yang naik harganya di top gainer antara lain Merck (MERK) naik Rp 1.500 ke Rp 74.500, Indo Tambang (ITMG) naik Rp 1.200 ke Rp 39.250, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 800 ke Rp 28.300, United Tractors (UNTR) naik Rp 300 ke Rp 19.200, Unilever (UNVR) naik Rp 300 ke Rp 12.600. ''Emiten hampir di semua sektor masuk dalam daftar saham yang mencatatkan kenaikan tertinggi. Itu berarti IHSG memang sedang diliputi sentimen positif,'' imbuh Edwin.
Menurutnya, jika IHSG bisa bertahan dalam tiga hari ke depan kemungkinan indeks bursa lokal itu akan lebih kuat lagi. Aktivitas investor asing juga didominasi aksi beli sebesar Rp 1,526 triliun, sedangkan transaksi jual asing sebesar Rp 1,353 triliun. Nilai transaksi beli bersih asing (foreign net buy) sebesar Rp 173,283 miliar.
Perdagangan berjalan sangat ramai dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar mencapai 148.652 kali pada volume 6,518 miliar lembar saham senilai Rp 5,337 triliun. Sebanyak 119 saham naik, 94 saham turun dan 90 saham stagnan.


Saham Sebelumnya :
