19 Apr 2010
(Businessreview) - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin (19/4) pagi, melemah 28 poin menjadi 9.033-9.043 per dolar dari penutupan akhir pekan lalu 9.005-9.015, karena pelaku pasar melepas rupiah menyusul melemah bursa regional.
Pengamat pasar uang Edwin Sinaga di Jakarta, Senin, mengatakan, rupiah melemah terhadap dolar, karena Bank Indonesia (BI) masih berada di pasar untuk menekan rupiah agar tidak berlanjut menguat. "BI tidak menginginkan rupiah berada di bawah angka 9.000 per dolar, karena para eksportir produk jualnya di pasar ekspor kurang kompetitif," katanya.
Rupiah, menurut Edwin Sinaga, juga tertekan oleh melemahnya saham-saham AS yang menekan bursa regional seperti bursa Tokyo dan bursa Hong Kong pada pembukaan pasar melemah. "Kami optimistis tekanan negatif pasar tidak akan berlanjut, karena sentimen positif yang mendorong rupiah agar berada di bawah angka 9.000 masih cukup kuat," ujarnya.
Menurut dia, aliran dana asing yang ditempat di pasar uang domestik, ke instrumen BI dan obligasi pemerintah, masih terus terjadi. Karena itu, peluang rupiah untuk kembali berada di bawah angka 9.000 per dolar masih kuat. Bahkan, aliran dana asing yang sudah terjadi selama tiga bulan hingga Maret 2010 sudah mencapai angka Rp71,9 triliun.
Jadi, lanjut dia, koreksi saat ini hanya sekadar menahan pergerakan rupiah agar tidak dapat melaju hingga jauh di bawah angka 9.000 per dolar. Rupiah sebelumnya sempat mencapai angka di bawah level 9.000 per dolar, namun kenaikan rupiah yang terlalu cepat menimbulkan kekhawatiran bahwa daya asing ekspor Indonesia akan melemah.
Karena itu, BI berusaha turun ke pasar dengan melepas cadangan devisa. Apalagi, posisi rupiah yang makin menguat kurang disukai oleh eksportir yang kesulitan menetapkan harga jual produknya di pasar ekspor. Menurut Edwin Sinaga, rupiah idealnya berada di kisaran 9.200 sampai 9.500 per dolar, karena eksportir dan importir dapat berbisnis dengan baik. (Ant)


Saham Sebelumnya :
