01 Aug 2010
Businessreview (Jakarta)- Sejak penutupan sesi pertama, indeks terus melandai. Melemahnya bursa regional paska pengumuman tingginya angka pengangguran di Jepang ikut menyeret IHSG turun sebesar 0,89% ke level 3.069.
Hampir semua indikator sektor saham mengirimkan sinyal penurunan kecuali sektor infrastruktur. Sektor aneka industri mengalami penurunan paling tajam di akhir pekan ini, Jumat (30/7). Sebanyak 126 saham turun nilainya, 87 saham naik, dan 64 saham lainnya tidak berubah.
Saham-saham pencetak gain pada penutupan perdagangan sore ini, antara lain PT Adira Dinamika Multifinance Tbk naik 4,46% ke Rp 10.550, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) naik 2,42% ke Rp8.450, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) naik 2,88% ke Rp2.675, PT Modern International Tbk (MDRN) melesat 11,76% ke Rp950, dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) naik 0,53% ke Rp19.100.
Sementara itu, saham yang turun di antaranya PT Astra International Tbk (ASII) merosot 3,89% ke Rp50.700, PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) turun 3,70% ke Rp13.000, PT Indo Tambangraya Megah Tbk turun 0,79% ke Rp37.500, Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 4,03% ke Rp5.950, dan PT Unilever Indonesia Tbk turun 1,17% ke Rp16.950.Volume perdagangan akhir pekan ini sebesar 6,063 miliar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp3,267 triliun.
Rupiah Sore Naik 25 Poin
Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Jumat sore naik 25 poin lebih tinggi dibanding sesi sebelumnya menjadi Rp8.950 per dolar, karena pelaku pasar makin aktif membeli mata uang Indonesia.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar naik menjadi Rp8.950-Rp8.960 per dolar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp8.975-Rp8.985.
Dirut Finan Corpindo Nusa, Edwin Sinaga di Jakarta mengatakan, faktor positif makin meningkat terhadap pasar uang, karena aksi beli terhadap rupiah terus meningkat.
Masuknya dana asing ke pasar domestik merupakan faktor utama yang mendorong rupiah terus menguat hingga di bawah angka Rp9.000 per dolar, ucapnya.
Menurut dia, pelaku asing makin aktif memburu rupiah, karena mereka optimis dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang makin tinggi.
Pelaku asing yakin ekonomi akan dapat tumbuh di atas enam persen yang merupakan pertumbuhan paling tinggi di antara negara-negara Asia kecuali China dan India, katanya.
Besar dana asing yang masuk pada umum ditempatkan di Surat Utang Negara dan instrumen Bank Indonesia. Namun kenaikan rupiah itu kemungkinan tidak bertahan lama dalam satu dua hari rupiah kemungkinan akan kembali di atas Rp9.000 per dolar, ucapnya.
Apabila rupiah masih di bawah posisi Rp9.000, menunjukkan BI membiarkan kenaikan mata uang Indonesia kepada pasar. Meski BI juga memikirkan kepentingan lain seperti importir, ujarnya.
Menurut dia, apabila BI tidak menahan pergerakan rupiah, maka rupiah akan dapat mencapai Rp8.800 per dolar. "Kita lihat saja dalam perdagangan pekan depan apakah ada reaksi dari BI terhadap pergerakan rupiah," ucapnya


Saham Sebelumnya :
