02 Aug 2010
IHSG pada perdagangan Senin (2/8/2010) diprediksi akan mengalami konsolidasi dengan arah masih positif.
Businessreview (Jakarta) - Euforia menyambut laporan keuangan emiten masih akan ada. Namun posisi IHSG yang sudah terlalu tinggi dan sebagian besar saham unggulan yang sudah jenuh beli membuka peluang profit taking.
Investor akan menantikan rilis inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada siang ini. Namun analis memrediksi inflasi Juli akan tinggi seiring lonjakan harga cabai dan komoditas lainnya.
Pada akhir pekan lalu, bursa Wall Street melemah setelah keluarnya data PDB AS yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi negara adikuasa itu melemah lebih besar dari ekspektasi. Departemen perdagangan AS merilis pertumbuhan PDB AS sebesar 2,4% pada kuartal II, lebih rendah dari ekspektasi analis sebesar 2,5%.
Pada perdagangan Jumat (30/7/2010) akhir pekan lalu, indeks Dow Jones ditutup melemah tipis 1,22 poin (0,01%) ke level 10.465,94. Indeks Standard & Poor's 500 menguat tipis 0,07 poin (0,01%) ke level 1.101,60 dan Nasdaq menguat 3,01 poin (0,13%) ke level 2.254,70.
Sementara Bursa Jepang mengawali perdagangan awal pekan ini dengan kenaikan tipis. Indeks Nikkei-225 dibuka tercatat naik 45,18 poin (0,47%) ke level 9.582,48.
IHSG selama pekan lalu bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat hingga menembus rekor tertingginya. Selama sepekan IHSG naik sebesar 0,89% sebagai cermin dari positifnya pandangan investor terhadap kinerja emiten Indonesia pada kuartar kedua 2010.
"Euforia ini tidak hanya terjadi di bursa Indonesia melainkan juga terjadi di Bursa Amerika sebagai bursa acuan dunia serta bursa lainnya di Eropa dan Asia," ulas Muhammad Fikri, analis dari BNI dalam revew-nya, Senin (2/8).
Seperti diketahui, pada pekan lalu indeks Dow Jones mencapai pekan terbaiknya pada tahun ini. Indeks Dow Jones mampu menguat sebesar 7,1% selama bulan Juli. Penguatan Dow Jones minggu lalu didorong oleh sentimen tumbuhnya pendapatan perusahaan-perusahaan besar di Amerika pada kuartal II-2010.
Walaupun demikian penguatan Dow Jones sempat tertahan pada pekan terakhir perdagangan minggu lalu setelah dirilisnya ekspektasi pertumbuhan GDP Amerika pada kuarter kedua 2010 yang tumbuh lebih rendah dibanding kuarter sebelumnya.
"Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa apa yang telah dikatakan presiden the Fed di depan Senat AS mengenai potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi AS bukanlah isapan jempol belaka," urainya.
Sentimen negatif mengenai kondisi makroekonomi AS tersebut telah menekan Dow Jones sehingga melemah 0,01% pada akhir perdagangan pekan lalu dan diprediksi pelemahan tersebut akan berlanjut pada perdagangan pekan depan.
"Lebih jauh para analis mempercayai bahwa Bursa Amerika minggu depan akan mendapatkan ujian baru dengan dirilisnya laporan pertumbuhan pekerjaan dan Indeks kepercayaan konsumen bulanan yang diprediksi pasar akan kembali turun. Dua sentimen tersebut akan menentukan arah pergerakan bursa saham Amerika," jelas Fikri.
Kondisi makroekonomi Amerika yang tidak menggemberikan tersebut dipercaya akan memberikan dampak kepada bursa saham Indonesia. Sentimen negatif mengenai ekonomi amerika akan menjadi penggerak investor asing untuk melakukan aksi profit taking mengingat bursa Indonesia sudah mengalami kenaikan yang cukup tinggi dibandingkan dengan bursa lainnya di dunia.
Hal ini ditambah dengan berakhirnya sentimen laporan keuangan emiten yang selama satu bulan ini telah menjadi triger utama penguatan bursa saham Indonesia.
"Sebagai dampaknya IHSG minggu depan diprediksi akan mendapatkan tekanan jual dan berpotensi melemah mengingat IHSG selama ini sudah memasuki area jenuh beli. Investor asing diprediksi akan memanfaatkan sentimen negatif dari amerika untuk melakukan aksi jual. Kondisi tersebut telah terlihat pada perdagangan akhir pekan lalu dimana investor asing mencatatkan penjualan bersih (net buy sell) sebesar Rp 25,48 miliar," papar Fikri. (DF)


Saham Sebelumnya :
